Pakar: Hubungan Indonesia-China Makin Erat, Namun Posisinya Kompleks
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id- Direktur Center for International Security and Strategy, Wei Da menyebut hubungan Indonesia-China berada dalam kondisi yang erat. Akan tetapi, tantangan hubungan bilateral akan semakin menantang dan kompleks ke depannya.
“China dan Indonesia sekarang memiliki hubungan ekonomi yang sangat dekat. Ini akan menjadi hal yang sangat bergantung pada masa depan karena keduanya adalah ekonomi besar dengan tingkat industrialisasi yang berbeda,” kata Wei Da, di sela-sela penyelenggaraan Munich Security Conference, diakses Rabu (18/2/2026)
Menurut Wei Da, pola hubungan dagang China-Indonesia saat ini, di mana China mengimpor bahan mentah dari Indonesia dan mengekspor produk industri, masih akan berlanjut dalam jangka menengah. Namun, di masa depan peta ini dapat berubah.
“Ketika China mengembangkan lebih banyak produk industri untuk negara lain, Indonesia bisa menjadi salah satu destinasi. Indonesia pun dapat mengembangkan lebih banyak produk untuk pasar China. Ini hubungan dua arah,” ujar dia.
Baca Juga
Ini 5 Perusahaan Asal China yang Lolos Tender Proyek Waste-to-Energy Danantara
Wei Da mengingatkan satu hal penting dari hubungan ini yaitu perbedaan tingkat industrialisasi yang membuat hubungan ekonomi kedua negara membutuhkan kehati-hatian agar tidak timpang.
“Dua ekonomi yang berbeda tidak bisa hanya dilihat sebagai ‘China ekspor’ atau ‘China investasi di Indonesia’. Indonesia juga harus memperkuat basis industrinya sendiri,” ujar dia.
Wei Da menyebut kekhawatiran Indonesia menghadapi tekanan teknologi China, terutama pada sektor 5G, 6G, infrastruktur digital, data, hingga semikonduktor sebagai hal wajar yang dialami negara berkembang.
Namun ia menegaskan bahwa tekanan tersebut bukan semata-mata bentuk dominasi, melainkan akibat kecepatan lompatan teknologi China yang membuat banyak negara perlu menyesuaikan strategi.
Melihat kondisi ini, Wei Da melihat kolaborasi teknologi China-Indonesia menjadi bagian penting dari hubungan dagang. Sebab, kerja sama ini diperlukan kedua negara mengingat adanya restriksi geopolitik dan kompetisi global.
“Untuk mencapai kesuksesan bisnis, perusahaan harus berada di tempat tersebut. Saya rasa banyak perusahaan kami sudah berada di Indonesia. Itu bukan masalah besar di antara kita,” ujar dia.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Beijing melihat kehadiran langsung perusahaan teknologi China di Indonesia sebagai faktor kunci mengurangi friksi geopolitik sekaligus memperkuat ekosistem digital Indonesia.
Sebagai pakar hubungan China–Amerika Serikat (AS), Wei Da memahami bahwa perkembangan teknologi hampir pasti bersinggungan dengan tensi geopolitik kedua kekuatan besar dunia. Indonesia, kata dia, perlu memainkan peran strategis dalam kontestasi teknologi kawasan Indo-Pasifik.
Menurutnya, Indonesia punya ruang untuk bermanuver selama mampu menjaga kepentingan nasional, memperkuat industri dalam negeri, dan tidak terjebak dalam rivalitas dua raksasa.

