Rupiah Kembali Tertekan Terhadap Dolar AS, Tergeletak di Rp 16.792 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menghadapi tekanan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (8/1/2026). Rupiah tergelincir makin dalam setelah melemah 17 poin atau turun 0,1% ke posisi Rp 16.797 per US$.
Indeks dolar AS atau DXY bergerak naik pada Kamis pagi ini. Kondisi ini memperkuat posisi dolar AS terhadap sejumlah mata uang di antaranya yuan China, poundsterling Britania Raya, yen Jepang, dan sejumlah mitra dagang Indonesia di Asia Tenggara.
Dolar AS menguat 0,05% terhadap yuan, 0,01% terhadap poundsterling, dan 0,1% terhadap yen. Dolar AS juga terpantau menguat terhadap ringgit Malaysia sebesar 0,11%, dolar Singapura sebesar 0,09%, dan baht Thailand sebesar 0,02%.
Baca Juga
Dolar AS terpantau melemah terhadap euro Uni Eropa sebesar 0,01% dan rupee India sebesar 0,32%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan pasar saham AS ditutup melemah pada Rabu (7/1/2026). Indeks Dow Jones turun 0,94% ke level 48.996,08, sementara itu S&P 500 melemah 0,34% ke 6.920,93. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 2,55 basis poin menjadi 4,15%.
Indeks ISM Jasa AS meningkat untuk bulan ketiga berturut-turut menjadi 54,4 pada Desember 2025. Angka ini naik di atas perkiraan pasar sebesar 52,3. Ini mencerminkan pertumbuhan sektor jasa terkuat sejak Oktober 2024.
Baca Juga
Rupiah Terpeleset karena Investor Hati-hati Cermati Data Ekonomi AS
Pesanan baru barang manufaktur AS turun 1,3% secara bulanan menjadi US$ 607,4 miliar pada Oktober 2025. Angka ini menghapus kenaikan 0,2% pada September 2025 dan sejalan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sebesar 1,2%.
Pasar tetap memperhitungkan bahwa bank sentral AS akan mengalami dua kali penurunan suku bunga acuan. Asumsinya yaitu bukti disinflasi akan segera memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Pandangan Andry, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yaitu diperkirakan berada pada kisaran Rp 16.725 hingga Rp 16.797 per US$.

