Harga Nikel Capai Rekor Tertinggi Sejak September 2023, Bagaimana Selanjutnya?
Nikel berjangka melonjak di atas US$ 19.000 ke level tertinggi sejak September 2023, terangkat oleh pembicaraan pembelian pemerintah Tiongkok dan kekhawatiran tentang berkurangnya pasokan.
“Nikel diperkirakan masih dapat meningkat dan diperdagangkan pada US$ 20.000 per metrik ton pada akhir kuartal ini,” kata Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo kepada investortrust.id, Senin (22/4/2024).
Pada perdagangan Jumat (19/4/2024), harga kontrak nikel tenor 3 bulan ditutup menguat 4,1% ke level US$ 19.326 per ton atau sekitar Rp 314,05 juta. Harga nikel mengalami kenaikan sebanyak 8,29% dalam sepekan didorong oleh keputusan AS dan Inggris sebelumnya yang melarang pengiriman baru nikel buatan Rusia ke London Metal Exchange (LME) dan Chicago Mercantile Exchange (CME).
Kenaikan tersebut membuat harga nikel berada dalam tren positif sepanjang tahun 2024, naik 16,4% hingga mencapai level tertinggi sepanjang tahun 2024.
Baca Juga
Dikutip dari Reuters, Senin (22/4/2024) beberapa sumber menyebutkan bahwa penimbun asal Tiongkok, Badan Cadangan Pangan dan Strategis Nasional, berencana membeli nikel pig iron yang merupakan bahan baku utama baja tahan karat. Jumlah dan perusahaan yang terlibat tidak diungkapkan.
Pada saat yang sama, logam ini tertahan oleh kekhawatiran baru mengenai produksi karena produsen utama dunia, Indonesia, masih meninjau permohonan kuota penambangan dan belum mengeluarkan seluruh izin.
Baca Juga
Indonesia Bisa Kalahkan Uni Eropa soal Nikel di Tingkat Banding WTO, Ini Syaratnya…
Sementara mengutip Stockbit, sejumlah faktor disinyalir menjadi pendorong harga nikel belakangan ini, antara lain:
1.Larangan perdagangan atas produk logam nikel buatan Rusia yang dikeluarkan oleh pemerintah AS dan Inggris.
2.Keterlambatan persetujuan RKAB pertambangan nikel di Indonesia yang berpotensi mengurangi pasokan.
3.Kabar yang beredar di pasar bahwa otoritas China tengah berencana untuk melakukan pembelian produk Nickel Pig Iron (NPI) hingga 200 ribu ton.
"Membaiknya harga nikel setelah sempat tertekan hingga level US$ 15.000 per ton pada awal 2024 berpotensi berimbas pada kenaikan rata-rata harga jual (ASP) yang dinikmati perusahaan nikel," tulis riset.

