Rupiah Menguat Jelang Pergantian Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id- Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada malam pergantian tahun 2026. Rupiah menguat 0,36% terhadap dolar AS di posisi Rp 16.720 per US$.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan sentimen pasar tetap berhati-hati setelah risalah rapat FOMC Desember menunjukkan perbedaan pandangan di antara pejabat the Fed. Ini dengan kekhawatiran inflasi memperkuat pendekatan berbasis data serta ekspektasi hanya satu kali penurunan suku bunga 2026.
Tanggal 30 Desember sebagai hari perdagangan terakhir bagi sebagian besar pasar saham global di 2025. Investor memilih mengamankan keuntungan dan mengurangi eksposur setelah kinerja year to date yang kuat di berbagai indeks utama Asia.
Baca Juga
Perdagangan Terakhir 2025, Rupiah Pagi Ini Berhasil Menguat Melawan Dolar AS
“Sehingga risk appetite secara keseluruhan tetap terbatas,” kata Andry.
Berdasarkan catatan Bank Mandiri, rupiah terdepresiasi 3,65% terhadap dolar AS akibat tekanan eksternal yang berkelanjutan. Ini dipicu eskalasi tarif impor AS, sikap the Fed yang kurang dovish, meningkatnya aversi risiko global di tengah ketegangan geopolitik, serta berlanjutnya arus keluar modal dari pasar negara berkembang seiring pergeseran portofolio investor ke aset yang lebih aman.
Nilai transaksi saham rata-rata mencapai Rp 18 triliun sepanjang 2025. Investor asing mencatatkan arus keluar bersih sebesar Rp 17,3 triliun.
Baca Juga
Perdagangan Terakhir 2025, Rupiah Pagi Ini Berhasil Menguat Melawan Dolar AS
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun 92,6 basis poin atau bps menjadi 6,1%. Imbal hasil obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun turun 57,1 bps menjadi 4,9% sepanjang 2025.
Kepemilikan asing pada obligasi pemerintah per 29 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 878,3 triliun. Arus masuk mencatatkan sebesar Rp 1,7 triliun secara year to date atau setara dengan 13,37% dari total obligasi yang beredar.

