Pasar Kripto 2026 Berpeluang Pulih di Tengah Ketidakpastian Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Memasuki 2026, pasar kripto diperkirakan berada di tengah kombinasi ketidakpastian makro, risiko politik global, serta minimnya katalis positif jangka pendek. Namun, peluang pemulihan tetap terbuka, terutama jika kebijakan moneter mulai lebih akomodatif.
“Ketidakpastian terbesar adalah arah kebijakan The Fed. Jika tingkat pengangguran terus meningkat, tekanan untuk memangkas suku bunga akan semakin besar. Apabila suku bunga The Fed turun ke bawah 3%, ini berpotensi mengubah peta permainan dan mendorong arus modal kembali ke aset berisiko seperti kripto,” kata analis kripto, Reku Fahmi Almuttaqin dalam keterangan, Rabu (24/12/2025).
Baca Juga
JPMorgan Dikabarkan Jajaki Perdagangan Kripto untuk Klien Institusional
Fahmi menambahkan, kondisi itu juga dapat memicu peningkatan partisipasi institusional seiring semakin beragamnya produk, seperti exchange-traded fund (ETF) altcoin spot dan infrastruktur regulasi yang kian matang di berbagai negara.
Sejumlah lembaga keuangan global telah merilis proyeksi harga Bitcoin pada 2026 dengan rentang yang cukup lebar. JP Morgan memperkirakan Bitcoin berpotensi naik ke level US$ 170.000, sedangkan Fundstrat memproyeksikan di kisaran US$ 200.000-250.000. Di sisi lain, Standard Chartered menurunkan estimasinya ke US$ 150.000.
Menurut Reku Fahmi Almuttaqin, siklus empat tahunan Bitcoin yang historisnya terkait dengan peristiwa halving kini semakin dipengaruhi oleh partisipasi institusional dan dinamika makro global.
“Koreksi pada 2025 berpotensi menyerupai pola akhir siklus seperti pada 2015 dan 2018, di mana penurunan tajam diikuti oleh pemulihan yang kuat. Namun, fase pemulihannya kemungkinan akan lebih panjang, terutama jika The Fed tidak melakukan pelonggaran secara agresif,” jelas dia.
Baca Juga
Pemerintah Tegaskan Revisi UUP2SK untuk Penguatan Tata Kelola dan Pelindungan Konsumen Aset Kripto
Fahmi mengungkapkan, fase pasar seperti ini memberikan ruang bagi investor dan trader untuk melakukan riset yang lebih mendalam. Proyek kripto dengan fundamental kuat, pendapatan nyata, tokenomics yang sehat, dan basis pengguna yang jelas berpotensi menawarkan peluang menarik ketika sentimen pasar kembali membaik.
Bagi investor konservatif, kata dia, alokasi pada aset kripto terbesar seperti Bitcoin dan Ethereum dengan strategi dollar cost averaging (DCA) dapat membantu meminimalkan dampak volatilitas.
“Investor yang lebih agresif dapat mempertimbangkan proyek tahap awal, namun tetap harus mengelola risiko secara disiplin melalui diversifikasi dan pemantauan aktif,” tegas Fahmi.

