Mengenal 'The Vulnerability Gap', Ancaman Tersembunyi bagi Keluarga Mapan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Dalam keseharian, keluarga yang mapan sering terlihat aman secara finansial, seperti memiliki rumah yang layak, pendidikan yang baik untuk anak, dan gaya hidup yang stabil. Namun di balik stabilitas tersebut, ada “vulnerability gap” atau celah kerentanan yang justru tidak banyak disadari.
Chief of Marketing Sun Life Indonesia Maika Randini mengungkapkan, celah ini muncul karena kemapanan sering dianggap setara dengan keamanan, padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Semakin mapan sebuah keluarga, semakin kompleks risiko yang dihadapi.
"Risiko finansial yang lebih besar, ketergantungan pada penghasilan utama, gaya hidup yang tinggi, hingga pengelolaan aset lintas generasi menjadi tantangan tersendiri. Tanpa strategi perlindungan yang tepat, kemapanan ini bisa rentan terhadap perubahan yang tidak terduga," ujar Maika dalam keterangan yang diterima, Sabtu (19/12/2025).
Maika menjelaskan, setidaknya ada empat penyebab utama tingginya vulnerability gap pada keluarga di Indonesia. Pertama adalah ketergantungan pada satu figur high performer. Banyak keluarga Indonesia yang bergantung pada satu pencari nafkah utama.
Baca Juga
Dukung Pemulihan Banjir dan Longsor di Sumatra, Sun Life Indonesia Salurkan Bantuan Rp 1,19 Miliar
Ketika pendapatan keluarga bertumpu pada satu figur, risiko finansial meningkat signifikan. Jika sesuatu terjadi pada pencari nafkah ini, bukan hanya stabilitas finansial yang terganggu, tetapi juga keberlangsungan kehidupan keluarga, bahkan rencana jangka panjang anak-anak.
"Dalam banyak kasus, keluarga belum menyiapkan perlindungan memadai untuk memastikan pengganti penghasilan (income replacement) yang setara dengan standar hidup mereka," ungkap Maika.
Kedua, gaya hidup yang meningkat seiring penghasilan. Keluarga yang mapan umumnya memiliki cost of living yang tinggi, seperti biaya sekolah premium, cicilan aset besar, perjalanan rutin, hingga lifestyle maintenance. Semua ini membuat kebutuhan dana darurat dan perlindungan finansial harus proporsional dengan standar hidup tersebut.
Baca Juga
Perkuat Finansial Lintas Generasi, Sun Life dan CIMB Niaga Kenalkan 2 Produk Baru
Namun kenyataannya, banyak keluarga belum mengukur “biaya hidup sebenarnya.” Akibatnya, ketika risiko terjadi, keluarga langsung merasa tertekan karena cadangan dana maupun proteksi yang ada tidak cukup menutup kebutuhan gaya hidup yang sudah terlanjur tinggi.
Ketiga, aset banyak, namun tidak likuid. Kemapanan biasanya tercermin dari aset seperti properti, bisnis keluarga, investasi jangka panjang. Namun sebagian besar aset tersebut bersifat tidak likuid, tidak bisa langsung dicairkan ketika ada kebutuhan mendesak.
Proses balik nama properti, likuidasi bisnis, atau penjualan aset membutuhkan waktu panjang dan biaya administrasi yang tidak sedikit. Inilah salah satu penyebab mengapa keluarga mapan tetap rentan saat menghadapi risiko tidak terduga, karena kekayaan tidak selalu berarti ketersediaan dana siap pakai.
Keempat, tanggung jawab lintas generasi yang besar. Semakin mapan sebuah keluarga, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul, tidak hanya untuk generasi berikutnya tetapi juga untuk generasi sebelumnya.
Bagi keluarga yang berada di fase sandwich generation, tanggung jawab ini mencakup mendukung pendidikan dan masa depan anak-anak sekaligus merawat orang tua yang sudah lanjut usia. Tanpa perencanaan yang komprehensif, beban ini dapat menimbulkan tekanan finansial dan konflik antar anggota keluarga.
Sejalan dengan hal tersebut, Maika membeberkan bahwa berdasarkan data Financial Resilience Index Sun Life Indonesia 2025, 71% keluarga Indonesia memiliki aspirasi untuk membangun kekayaan keluarga. Karena itu, untuk membantu keluarga Indonesia mewujudkan aspirasinya sekaligus mengelola risiko yang semakin kompleks, Sun Life Indonesia menyediakan rangkaian solusi perlindungan yang dapat diandalkan untuk memastikan keberlanjutan finansial keluarga, bahkan ketika kondisi tidak terduga terjadi.
Maika memerinci, beberapa solusi itu meliputi income replacement dan perlindungan high-earner. Menurut Maika, asuransi jiwa berperan sebagai pengganti penghasilan ketika pencari nafkah utama mengalami risiko meninggal dunia.
"Produk seperti Sun Prosperity Prime (Si Super) menawarkan proses pengajuan praktis tanpa pemeriksaan kesehatan dan manfaat tunai tahunan sejak tahun pertama, membantu menjaga stabilitas cashflow keluarga," jelas Maika.
Kemudian, solusi perlindungan waris bebas pajak dan likuid. Untuk keluarga dengan aset besar dan tidak likuid, produk seperti Sun Proteksi Waris dapat menjadi instrumen yang efektif sebagai aset likuid yang langsung dapat digunakan ahli waris.
"Asuransi jiwa tidak dikenakan pajak, memiliki manfaat yang jelas, serta membebaskan keluarga dari proses administratif warisan yang panjang," terang Maika.
Selanjutnya adalah perencanaan lintas generasi yang terstruktur. Dikatakan Maika, Sun Life juga menyediakan dukungan melalui tenaga profesional seperti insurance advisor, yang dapat membantu keluarga menyusun strategi keuangan jangka panjang, hingga warisan yang sesuai hukum dan kebutuhan keluarga Anda.
"Seluruh inisiatif ini sekaligus mencerminkan komitmen Sun Life untuk menjadi The One You Can Rely On, teman seperjalanan keluarga Indonesia yang setia dan dapat diandalkan dalam setiap pembuatan keputusan finansial penting Anda dan keluarga," pungkas Maika.

