Poin Penting

Rupiah terdepresiasi ke Rp 16.735 per US$ pada Rabu (5/11/2025), turun 0,16%, menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 sebesar 5,04% (YoY) oleh BPS.
Indeks dolar berada di 100,11, membuat dolar AS menguat terhadap beberapa mata uang regional seperti ringgit Malaysia dan peso Filipina.
Di dalam negeri, imbal hasil obligasi pemerintah RI tenor 10 tahun naik ke 6,17%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS naik ke 4,9%.

JAKARTA, investortrust.id -  Rupiah tertekan pada Rabu (5/11/2025) pagi tadi menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025. Dari pantauan Bloomberg, rupiah terdepresiasi ke level Rp 16.735 per US$ di pasar spot pukul 09.40 WIB, Rabu (5/11/2025) atau terkoreksi 27 poin atau turun 0,16%.

Adapun data Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 sebesar 5,04% secara tahunan dan 1,43% secara kuartalan.

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) hari ini masih berada di posisi 100,11. Posisi ini membuat dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang, termasuk terhadap mata uang utama poundsterling Inggris. Dolar AS menguat tipis 0,01% terhadap poundsterling.

Sementara itu, dolar AS melemah terhadap euro Uni Eropa sebesar 0,07%. Selain terhadap euro, dolar AS juga melemah terhadap yen Jepang 0,30%.

Baca Juga

Rupiah Tertekan Jelang Rilis Data Ekonomi Kuartal III-2025

Dolar AS menekan dua mata uang di kawasan Asia Tenggara. Dolar AS menguat terhadap ringgit Malaysia sebesar 0,02%, dan peso Filipina sebesar 0,42%. Sedangkan dolar Singapura dan baht Thailand menahan penguatan dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,02% dan baht Thailand menguat 0,09%.

Pergerakan DXY yang tajam, diikuti dengan turunnya imbal hasil US Treasury 10 tahun sebesar 2,52 basis poin (bps) menjadi 4,09%, akibat pelaku pasar yang menyesuaikan kembali ekspektasi kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember 2025. Ekspektasi ini muncul setelah sinyal campuran dari para pembuat kebijakan.

Baca Juga

Rupiah Terseret Tekanan Global, Dolar AS Menguat di Tengah Kontraksi Manufaktur

Kepala Ekonom Bank Mandiri mengambil pernyataan Presiden Fed Chicago, Austan Goolsbee yang khawatir terhadap inflasi di AS dibandingkan lapangan kerja yang ada. Di sisi lain, Presiden Fed San Francisco, Mary Daly menyerukan agar pejabat tetap berpikiran terbuka.

“Saat ini, pasar memperkirakan sekitar 70% kemungkinan terjadinya pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps bulan depan, turun dari (ekspektasi) sekitar 90% sebelum keputusan FOMC pekan lalu,” kata Andry.

Penutupan pemerintahan AS masih menjadi persoalan yang terjadi sehingga rilis data ekonomi masih terbatas. Investor kini menantikan laporan ketenagakerjaan AS mendatang untuk mendapatkan petunjuk mengenai tren pasar tenaga kerja.

Di dalam negeri, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 1,1 bps menjadi 6,17%. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah dengan denominasi dolar AS tenor 10 tahun naik 2,8 bps menjadi 4,9%.

Hari ini, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.673-16.758 per US$.