Indeks Dolar AS Menguat, Tapi Rupiah Masih Gaspol
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah melanjutkan tren positif pada Kamis (7/8/2025) pagi. Dilansir Bloomberg, kurs rupiah menguat 28 poin (0,17%) ke level Rp 16.361 per dolar AS.
Menguatnya rupiah terhadi di tengah apresiasi yang dialami oleh indeks dolar AS. Pada saat yang sama, pagi ini indeks dolar AS menguat 0,07% ke level 98,2.
Kekhawatiran atas tarif baru yang dimodifikasi oleh Trump juga mengguncang pasar. Akhir pekan lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memperbarui tarif "resiprokal"-nya terhadap puluhan mitra dagang AS, mulai dari Suriah hingga Taiwan, dengan besaran tarif baru antara 10 persen hingga 41%.
Baca Juga
Dengan minimnya data ekonomi yang dirilis pekan ini, investor akan mencermati setiap perkembangan perdagangan antara AS dan Tiongkok setelah pejabat tinggi kedua negara bertemu di Stockholm, Swedia, pekan lalu. Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan kepada CNBC pada hari Kamis bahwa mereka sedang “menyusun kerangka kesepakatan."
Investor juga menantikan laporan kinerja keuangan emiten pekan ini. Palantir dijadwalkan merilis hasil keuangan setelah pasar tutup hari Senin, dan AMD akan melaporkan kinerjanya pada hari Selasa.
Baca Juga
Sebelumnya pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan nilai tukar (kurs) rupiah akan melemah imbas menghadapi tekanan yang diberikan oleh dolar Amerika Serikat (AS). Ia memprediksi kurs rupiah akan bergerak melemah pada perdagangan Kamis (7/8/2025) esok hari.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.360 - Rp 16.420 per dolar AS," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (6/8/2025).
Ibrahim Assuaibi mengungkap sejumlah sentimen yang datang dari fundamental ekonomi AS. Ia mengatakan data pada hari Selasa menunjukkan bahwa indeks manajer pembelian (PMI) dari Institute for Supply Management (ISM) turun menjadi 50,1 pada bulan Juli, di bawah perkiraan 51,5, menandai hampir terhentinya aktivitas jasa dan memperburuk kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi AS.
Hal ini terjadi setelah laporan penggajian AS yang lemah pada hari Jumat, yang menunjukkan lebih sedikit penambahan lapangan kerja baru dan revisi yang meluas, mendorong tingkat pengangguran menjadi 4,2%.
"Peluang penurunan suku bunga The Fed untuk bulan September naik menjadi 87% pada hari Rabu," lanjut dia.

