Laba Bersih Melesat, Indonesia Re Catat Pemulihan Kinerja di 2024
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Reasuransi Indonesia Utama (Indonesia Re) menutup tahun 2024 dengan capaian positif. Laba bersih perusahaan melonjak hampir lima kali lipat menjadi Rp 143 miliar, dibanding Rp 28 miliar pada 2023.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama Indonesia Re Benny Waworuntu dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/7/2025).
Menurutnya, kinerja perasuransian seperti Indonesia Re pada dasarnya bertumpu pada dua pilar utama, yaitu hasil underwriting dan hasil investasi.
“Karena kita merupakan perusahaan yang melakukan seleksi risiko, maka hasil underwriting bersih (penting). Lalu, karena kita mengumpulkan premi itu tentu harus kita investasikan. Jadi dua pilar ini yang men-drive pendapatan sebuah perusahaan perasuransian,” ujar Benny.
Baca Juga
Indonesia Re Ungkap 6 Tantangan Industri Reasuransi Dalam Negeri
Sepanjang 2024, hasil underwriting bersih Indonesia Re meningkat menjadi Rp 103 miliar, naik signifikan dibanding Rp 58 miliar pada 2023, sementara di 2022 hanya Rp 24 miliar. Sementara itu, hasil investasi mencatat pertumbuhan dari Rp 296 miliar pada 2023 menjadi Rp 383 miliar di tahun lalu.
Namun begitu, Benny menekankan pentingnya menjaga rasio kecukupan modal atau risk based capital (RBC) sebagai indikator utama kesehatan sebuah perusahaan perasuransian.
“RBC adalah salah satu ukuran kesehatan perasuransian yang dilihat berdasarkan bagaimana permodalan yang dimiliki perusahan bisa meng-cover risiko yang ditanganinya. Karena setiap premi yang didapat oleh perusahaan harus di back up oleh permodalan yang cukup agar bisa memastikan membayar klaim pada waktunya,” katanya.
Baca Juga
Dirut Indonesia Re Ingatkan Modus Penipuan Berkedok Asuransi
Per akhir 2024, RBC Indonesia Re tercatat berada di level 132,83%, sedikit di atas ambang batas minimum yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu 120%. Meski masih berada di kisaran aman, Benny menyebut penguatan permodalan akan menjadi fokus perusahaan ke depan.
Kilas balik performa lima tahun terakhir, Indonesia Re sempat mencatat rugi mencapai Rp 557 miliar pada 2021 akibat tekanan dari pandemi covid-19. Kondisi mulai membaik pada 2022, meskipun laba masih negatif Rp 247 miliar karena beban penyelesaian kasus pajak dan penguatan pencadangan.
“Pada 2021 ini kita jelek karena ada covid di situ, ada asuransi kesehatan yang memang hampir semua mengalami pemburukan kinerja. Tapi makin ke sini semakin membaik. Di 2024 kita tutup dengan laba yang kurang lebih lima kali lipat dibanding 2023,” ucap Benny.

