Permata Bank (BNLI) Salurkan Kredit Rp 156,6 Triliun di Kuartal I 2025
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Permata Tbk (BNLI) atau Permata Bank mengumumkan hasil kinerja kuartal I 2025 dengan membukukan pertumbuhan kredit sebesar 6% year on year (yoy). Pendapatan operasional sebelum provisi (PPOP) meningkat 9,2% yoy, didukung dengan kualitas aset yang terus membaik dengan rasio NPL Gross di level 2,0%.
Penyaluran kredit kepada masyarakat tumbuh 6% yoy menjadi Rp 156,6 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama didorong oleh pertumbuhan kredit dari segmen Korporasi yang tumbuh sebesar 7% yoy menjadi Rp 92,2 triliun, diikuti pertumbuhan segmen Komersial dan Konsumen, yang masing-masing tumbuh sebesar 5,3% dan 4,3% yoy.
Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi global, Permata Bank disiplin untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit dan secara konsisten mempertahankan struktur neraca yang optimal dengan tetap menjaga tingkat likuiditas yang memadai.
Menurut Meliza, dengan dukungan jaringan internasional dan skala bisnis Bangkok Bank, Permata Bank terus berkomitmen memperkuat kemitraan dan kolaborasi lintas negara bersama semua pemangku kepentingan. Mengokohkan visi regional Permata Bank untuk dapat tumbuh bersama dengan jaringan yang global.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede saat (kanan) bersama Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli (kiri). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.
“Kinerja yang baik di awal tahun ini menunjukkan keyakinan kami bahwa strategi jangka panjang yang Permata Bank terapkan berada di jalur yang tepat. Fokus kami tidak hanya pada pertumbuhan, tetapi juga pada menciptakan nilai bermakna yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan. Kami akan terus memperkuat layanan dan digitalisasi, mendorong inklusi keuangan, serta meningkatkan produktivitas dan positivitas dalam organisasi, agar Permata Bank dapat terus relevan dan kompetitif di tengah perubahan yang begitu cepat," ujar Meliza dalam keterangan yang diterima, Rabu (23/4/2025).
Meliza menjelaskan, penerapan strategi optimalisasi neraca mengantarkan pertumbuhan bisnis Permata Bank yang lebih optimal dengan mencatatkan loan to deposit ratio (LDR) di level 83,2%, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi pada akhir kuartal pertama tahun 2024 yang berada di level 82,0%. Total aset Permata Bank tumbuh sebesar 4,5% yoy menjadi Rp 264,3 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Simpanan nasabah terjaga baik dan meningkat 4,8% yoy menjadi Rp 187,4 triliun yang didorong oleh pertumbuhan CASA sebesar 6,5%. CASA rasio Permata Bank meningkat menjadi 58,6% dibandingkan 57,7% di tahun lalu.
"Dengan disiplin menerapkan inovasi layanan dan digitalisasi, Permata Bank berhasil membukukan rasio cost to income (CIR) yang semakin efisien menjadi 48,6% pada akhir Maret 2025 dibandingkan dengan akhir Maret 2024 sebesar 50,2%," ungkap Meliza.
Kemudian, rasio NPL gross dan loan at risk (LAR) tercatat lebih baik, masing-masing pada level 2,0% dan 7,6%, dibandingkan dengan 2,7% dan 8,2% di kuartal I tahun 2024. Untuk menjaga kebutuhan cadangan atas potensi penurunan risiko kredit secara konservatif, Permata Bank membentuk NPL coverage dan rasio LAR coverage yang prudent, masing-masing di level 387% dan 101%.
"Lebih lanjut, dalam melakukan penyelesaian kredit bermasalah, Permata Bank secara konsisten melakukan upaya restrukturisasi, litigasi, dan penjualan aset," kata Meliza.
Rasio CAR dan CET-1 Permata Bank pada kuartal I 2025 tercatat kuat masing-masing sebesar 33,6% dan 25,6%. Rasio permodalan Permata Bank saat ini merupakan salah satu yang terkuat di antara bank-bank komersial terbesar di Indonesia. Permodalan yang kuat ini menjadi enabler untuk mendukung strategi dan pertumbuhan Bank di masa depan baik secara organik maupun anorganik.
Di sisi lain, unit usaha syariah (UUS) Permata Bank membukukan kinerja yang positif dengan pencapaian pendapatan operasional sebelum provisi sebesar Rp 195,3 miliar atau tumbuh sebesar 11,2% yoy. Pencapaian ini didukung dengan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang tumbuh 6,7% yoy dan pengendalian biaya yang disiplin.
"Pada sisi pendanaan, simpanan nasabah meningkat 14,5% yoy menjadi Rp 31,2 triliun. UUS Permata Bank terus fokus pada peningkatan simpanan nasabah, khususnya pendanaan murah yang stabil dengan terus mengembangkan jaringan ekosistem syariah di industri perbankan Indonesia," pungkas Meliza.