Thio Siujinata Tinggalkan Produsen Mercy Demi Eceng Gondok dan Kopi
JAKARTA, investortrust.id – Bertahun-tahun bekerja di PT German Motor Indonesia, perusahaan di balik nama besar Mercedes Benz (Mercy) dengan fasilitas dan penghasilan yang menarik ternyata tak membuat Thio Siujinata sepenuhnya nyaman. Begitupun saat menjadi art director di perusahaan periklanan dan agen senior di salah satu perusahaan asuransi.
Ada sesuatu yang mengusik jiwa seninya dan ingin berbuat sesuatu yang lebih. Pria kelahiran Jakarta, 30 April 1971 ingin hidupnya lebih berarti bagi masyarakat luas dan lingkungan.
Hingga suatu hari di tengah hantaman pandemi Covid-19, tanpa sengaja ia melihat tanaman eceng gondok di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Tanaman bernama latin eichhornia crassipes itu seringkali dianggap sebagai gulma atau pengganggu lingkungan, namun di matanya memiliki daya tarik tersendiri.
Serat-seratnya yang kuat dan teksturnya yang unik membuat alumnus D3 Fakultas Seni Rupa jurusan Desain Grafis angkatan 1991 dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini pun amat yakin dengan potensi eceng gondok.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Thio pun bulat untuk meninggalkan segala kenyamanannya bekerja. Kakak iparnya yang lebih dulu berbisnis hal serupa dengan fokus pada ekspor mendukung langkah Thio. Apalagi untuk tenaga kerja, ia dan sang istri Rika Christina dapat memberdayakan anak-anak panti asuhan yang biasa dibantunya.
Pasangan suami istri ini pun lantas mendirikan Craftote Gallery & Coffee di Jl. Tomang Rawa Kepa No. 37, Jakarta Barat di atas luasan tanah 200 meter persegi pada 21 Oktober 2021. Sebuah tempat yang menggabungkan galeri seni dengan kafe yang menyajikan kopi dengan biji pilihan terbaik dari tanah Indonesia. Menariknya, galeri ini berlandaskan prinsip keberlanjutan dan cinta terhadap alam.
“Craftote akan menjadi tempat di mana orang-orang bisa menikmati kopi sambil menikmati keindahan kerajinan tangan yang dibuat dengan hati,” ungkap Thio yang menjabat sebagai co-founder Craftote kepada para peserta BRI Fellowship Journalism 2025, di Craftote Gallery & Coffee, Jakarta, belum lama ini.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Baca Juga
Sinergi BRI dan BPJS Ketenagakerjaan Dorong Inklusi Jaminan Sosial bagi Pekerja Informal
Tiga Prinsip
Craftote, lanjut Thio memiliki prinsip 3P, yaitu profit, people, dan planet. Pria yang pernah aktif di Departemen Sekolah Minggu Nasional ini menuturkan, profit artinya mendatangkan keuntungan, people artinya dapat bermakna bagi manusia, dan planet tempat kita hidup.
Hingga pada akhirnya, Thio merasa menemukan kembali jati diri seorang seniman yang bisa menciptakan sesuatu yang unik dan bermakna.
Melalui ide dan ketrampilannya, ia berhasil memproduksi berbagai produk anyaman dari eceng gondok. Seperti tas, keranjang, hiasan lampu dan dinding, serta berbagai barang lainnya yang memiliki nilai keberlanjutan. Ia juga sanggup untuk membuat produk custom sesuai dengan keinginan pelanggannya. Bahkan, salah satu produknya Boheni Bambu Lamp memperoleh penghargaan pada acara Kriyanusa 2023 lalu. Produk tersebut diberi penghargaan sebagai kriya terbaik dari bahan serat alam dan dibawa ke Eropa.
"Tahun 2023 kita sudah pernah ekspor ke Kanada dan Jepang. Kanada sudah tiga kali ekspor dan Jepang ini mau untuk yang kedua kalinya. Kamis kemarin saya baru ketemu klien dari Jepang di Yogyakarta, pesanannya kursi bulat ada lumayan puluhan," ucapnya antusias saat bercengkerama kembali dengan Investortrust, Minggu (16/3/2025).
Sumber: Instagram/Craftote
Galeri tersebut memang diakui kaya dengan sentuhan artistik, dihiasi lampu-lampunya estetik dari bahan ramah lingkungan, bahkan mejanya dari bekas kaki mesin jahit. Melengkapi, galeri juga didesain secara ikonik dan asri, serta diselimuti aroma kopi yang menggoda. Thio dan Rika pun sering berinteraksi dengan para pelanggannya. Tak heran bila Craftote dipenuhi dengan obrolan hangat, tawa, dan decak kagum dari para pengunjungnya.
Baca Juga
Keberhasilan Cokelat Ndalem Jadi Bukti Nyata Keberpihakan BRI Terhadap UMKM
Hal itu diakui Robert Lim pelanggan Craftote yang berdomisili di Jembatan Lima. “Biasa kita kumpul disini sebulan sekali. Biasanya kita 5-6 orang janjian disini karena ini ditengah-tengah wilayah rumah kami. Kopinya enak dan bagus juga bisa lihat-lihat kerajinan alam,” ujarnya.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Craftote memang terkenal dengan kopinya yang sehat tanpa pengawet dan bahan pewarna. Kopi dengan campuran buah naga, duren, strawberry, blueberry, dan alpukat dijual mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 50.000. Aroma kopi juga membuat kerajinan tangan yang dijual mulai Rp 50.000 hingga Rp 5 juta ini menjadi lirikan pengunjung.
Tantangan Bisnis
Namun seperti kata pepatah, setiap kesuksesan pasti diiringi dengan tantangan. Tak lama setelah pembukaan, Thio mulai dihadapkan dengan berbagai kendala yang menguji ketangguhan dan tekadnya dalam menjalani bisnis.
Salah satu tantangan terbesar yang muncul adalah masalah keuangan. Seperti banyak bisnis baru, Craftote membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk bisa terus berjalan. Di satu sisi, pendapatan dari penjualan kerajinan tangan dan kopi masih belum sebanding dengan ekspektasi awal.
Foto: Dok. Craftote
Tantangan finansial bukan satu-satunya masalah yang dihadapi bapak dua anak ini. Ia juga harus berurusan dengan masalah pasokan bahan baku. Karena Craftote mengandalkan serat alam seperti eceng gondok, maka masalah cuaca dan lingkungan juga mengganggu pasokan bahan baku.
Ada juga tantangan dalam menghadapi keseimbangan antara kualitas dan kuantitas. Dengan permintaan yang mulai meningkat, ia harus memikirkan cara untuk meningkatkan produksi tanpa harus mengorbankan kualitas produk yang menjadi ciri khas Craftote.
Selain tantangan internal, Thio juga menghadapi perubahan yang terjadi di luar Craftote. Dunia bisnis, terutama di industri kreatif dan kuliner apalagi sangat dinamis.
Di saat-saat seperti ini, Thio seringkali merenungkan keputusannya untuk kembali ke karier yang lebih stabil. Untungnya, pelatihan dan dukungan yang diberikan oleh Rumah BUMN BRI, membuatnya merasa seperti raksasa tertidur yang terbangun dan siap menghadapi dunia.
“Coffee shop berjalan cepat dan omzetnya cukup besar, tapi pas kita hitung lagi, kok boncos. Kita perhatiin ternyata kita manajemennya kurang bagus, kita belum pakai POS (Poin of Sales) atau segala macam waktu itu, akhirnya kita istilahnya ‘bertobat’ ke Rumah BUMN BRI. Kita belajar lagi, nah disitu baru ketahuan ternyata keuangan kita nggak sehat dan akhirnya kita belajar banyak. Sampai detik ini akhirnya keuangan sudah mulai profit,” ujar Thio.
Rika sang istri yang menjabat sebagai founder Craftote menyebut, omset dari bisnis kopi seduh tahun lalu sekitar Rp 700 juta dan kerajinan Rp 500 juta. Dari jumlah itu kerajinan yang diekspor sudah menyumbang Rp 250 juta. Ekspor dilakukan ke Jepang, Belanda, Kanada, Australia, hingga Amerika Serikat. “Hot prospect ada dari Slovenia yang dapat dari pameran BRI di ICE BSD,” katanya.
Sementara untuk tahun ini, perempuan kelahiran 14 Maret 1974 itu menargetkan, omzet kopinya bisa meningkat menjadi Rp 1,4 triliun dan kerajinan tangannya Rp 1,3 miliar.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Konsisten Berinovasi
Craftote, merupakan salah satu UMKM Binaan Rumah BUMN BRI Jakarta yang konsisten berinovasi dan tumbuh di tengah banyaknya tantangan yang melanda, baik secara ekonomi maupun pergeseran budaya.
“Kemauan Craftote untuk bisa beradaptasi dan terus meng-upgrade literasi yang dimiliki menjadi kunci sukses menuju UMKM Naik Kelas,” ucap CEO Rumah BUMN Jakarta Tri Adhi Tanuwidjaya.
Craftote gabungan dari sebuah kedai kopi artisan dengan galeri kerajinan anyaman, membawa Thio semakin besar dalam mengenalkan produk-produk Indonesia didalam dan luar negeri. Dengan pengalaman dan jaringan yang ia miliki dari karier sebelumnya, ia mulai membangun koneksi dengan pasar internasional yang tertarik pada kerajinan tangan yang unik dan berkelanjutan.
Foto. Dok BRI
Perkenalannya dengan BRI, cerita Thio terjadi saat beberapa bulan bisnis berjalan, galeri miliknya didatangi pihak BRI dan diberi tantangan. “Awalnya saya ragu mengikutinya, tapi katanya hanya bermodal konsisten saja dengan produk, dari situ kita siap,” ucapnya.
Pria yang memiliki visi unik dalam menggabungkan seni dan bisnis ini pun merasa bersyukur dengan kesempatan itu. Sebab di Rumah BUMN, ia mendapatkan pelatihan dan pengetahuan bisnis yang tak disangka sebelumnya. Di awal merintis usaha, ia sebatas mengetahui bahwa bisnis hanya persoalan membuat, menjual, dan mendapatkan untung.
Setelah mendapat pembinaan, ia menjadi paham hal-hal fundamental agar bisnis bertahan dan berkembang untuk jangka panjang. “Di Rumah BUMN kita diajarin bagaimana branding, marketing, keuangan, lalu disediakan pameran dan ada business matching, inkubator. Kita juga ditemukan dengan sesama pelaku usaha, bagaimana menangani karyawan dan menggunakan media digital untuk sarana promosi,” kata Thio yang hobi bersepeda ini.

