Tips Investasi Keuangan agar Tetap Aman di Tengah Gejolak Global
JAKARTA, investortrust.id - Head of Deposit and Wealth Management PT Bank UOB Indonesia Vera Margaret memberikan tips agar masyarakat tetap aman berinvestasi pada sektor keuangan di tengah gejolak pasar global. Sebelum investasi, masyarakat sebaiknya terlebih dahulu mengenali profil risiko masing-masing.
"Saya selalu menyarankan review risk profile-nya masing-masing karena dari risk profile kita mengetahui kita tuh cocoknya (instrumen investasi) apa sih," katanya ditemui seusai menghadiri media literacy circle bersama Bank UOB di The St Regis, Jakarta, Selasa (11/3/2025).
Baca Juga
Bank UOB Luncurkan Fitur 'Digital Wealth', Nasabah Bisa Investasi Mulai Rp100.000
Ia menjelaskan, profil risiko akan menentukan instrumen investasi yang tepat dengan karakteristik dan kondisi masing-masing. Secara umum, ia membagi dua jenis karakter investor, yakni agresif dan konservatif.
"Kalau profil risikonya agresif, salah satu contohnya instrumen saham. Jangan sampai karakter konservatif, beli produknya agresif, nanti (modalnya) tidak bisa kembali," jelasnya.
Selain itu, ia mengingatkan agar masyarakat mulai menyisihkan alokasi pendapatan untuk ditabung. Terlebih di tengah gejolak perekonomian dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pada berbagai sektor industri seperti saat ini.
"Konsep menabung selalu bilangnya menabung itu mulainya kapan sih? Kalau sampai hari ini di-PHK, saya sudah punya tabungan, bukannya pada saat PHK baru mikirin bagaimana saya mau hidupin diri saya," ungkapnya.
Baca Juga
Bank Mandiri Catat Lonjakan hingga 10 Kali Lipat di Livin’ Investasi
Alumnus Iowa State University itu juga mengungkap di tengah gejolak ekonomi, produk investasi yang banyak dipilih investor adalah obligasi. Ia menyebut hal itu lantaran pasar hampir memiliki pandangan sama, yakni tingkat suku bunga acuan tidak akan dinaikkan oleh bank sentral.
Namun di satu sisi, ia melihat volatilitas pasar saham dapat menjadi momentum untuk investasi. Ia menyarankan dengan istilah don't put your eggs in one basket kepada masyarakat. Artinya, ia mendorong agar investor tidak menempatkan seluruh portofolio investasi pada satu instrumen yang sama.
"Nah baginya harus berapa persen? Kembali profil risiko masing-masing. Kalau konservatif berarti produk yang agresif, seperti saham sangat kecil, kalau profil risikonya agresif berarti produk yang berisikonya lebih besar (porsinya)," jelasnya.

