Cegah Serangkan Siber, Bank Mestinya Anggarkan IT Security 10-15% dari Belanja IT
JAKARTA, investortrust.id - Serangan siber atau cyber attack yang melanda salah satu bank BUMN beberapa waktu lalu mengejutkan masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, pelaku industri perbankan diminta meningkatkan anggaran security berkisar 10-15% dari total anggaran divisi IT.
Praktisi Transformasi Digital Industri Keuangan sekaligus Chairman Intellectual Business Community, Bayu Prawira Hie mengatakan hal tersebut dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema "Business Resilient Cyber Attack" yang digelar investortrust.id di Gedung The Convergence, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (27/11/2023).
"(Anggaran) IT security yang sehat 10-15% dari spending IT total tiap tahun," ujarnya.
Meski demikian, Bayu mengungkap rata-rata bank yang sudah menerapkan digitalisasi saat ini baru menginvestasikan anggaran untuk IT security tak sampai 10%. Dia mengibaratkan pembangunan IT security sebagai penguatan sistem imunitas di dalam tubuh bank tersebut.
"Cyber attack sama seperti kena penyakit, bank harus bangun imunitas makin kuat karena kalau kena berat. Harus ada business contigency plan dan itu diharuskan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan perlu ada recovery plan," ujarnya.
Dr Bayu Prawira Hie saat memberikan pemikirannya pada acara FGD “Business Resilient Against Cyber Attack” dalam rangka Digital Banking Awards 2023 di kantor redaksi Investortrust, Senin, (27/11/2023). Foto: Investortrust/Elsid Arendra
"Tapi jangan hanya berupa plan. Harus dianggap seperti kebakaran, harus ada uji coba, bisa dilaksanakan atau tidak, tata cara bagaimana. Jangan sampai begitu kejadian, panik semua," lanjutnya.
Baca Juga
Identitas Digital Dinilai Minimalisir Serangan Siber di Industri Fintech
Bayu menjelaskan, upaya tersebut mesti dilakukan karena pelaku cyber attack sudah berpengalaman secara global. Bahkan peretasan bank pernah terjadi di Eropa hingga Amerika Serikat.
"Ini termasuk dalam risk management di bidang IT. Semua pihak terkait di Indonesia memang baru belajar, tapi para hacker ini merupakan pemain global. Semua harus hati-hati baik pelaku industri perbankan hingga otoritas," ucapnya.
"Sekarang ada BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) yang diharapkan untuk memberikan peran bagi industri perbankan. Kerja sama bisa dilakukan dan pentingnya standarisasi," tutupnya. (CR-14)
Baca Juga

