Dorong Inovasi Keuangan, OJK Gelar International Research Forum 2024
JAKARTA, investortrust.id - Sebagai upaya untuk terus mendorong inovasi keuangan demi mewujudkan sektor keuangan nasional yang inklusif dan tumbuh berkelanjutan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan the 2nd OJK International Research Forum (IRF) 2024.
Deputi Komisioner Sumber Daya Manusia dan Sistem Informasi OJK Irnal Fiscallutfi mengungkapkan, inovasi keuangan mengambil peran penting dalam memperluas layanan keuangan dan meningkatkan inklusi keuangan.
“Yang diharapkan dapat memberikan peluang bagi lembaga keuangan untuk memasuki pasar yang lebih luas dalam menyalurkan dana kepada nasabah yang unbanked dan underbanked,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (19/11/2024).
Menurutnya, sektor keuangan telah mengalami perkembangan teknologi yang pesat, bahkan lebih jauh telah mengadopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi, seperti untuk melayani pelanggan, menilai kelayakan kredit, dan mendeteksi kemungkinan gagal bayar di pasar.
Baca Juga
OJK Perkirakan Kondisi Perbankan Bakal Tetap Terjaga di Tahun 2025
Walau begitu, Irna juga mewanti-wanti jika penggunaan AI juga menghadirkan tantangan dan risiko yang memerlukan mitigasi ke depan, seperti keamanan data dan siber, ancaman terhadap tenaga kerja, dan masalah akurasi dan akuntabilitas dari otomatisasi pengambilan keputusan.
“Penting untuk kita mempertanyakan kembali seberapa pintar AI, karena pada dasarnya AI tetaplh sebuah mesin yang terbatas pada algoritma dan data, yang berarti peran manusia masih sangat dibutuhkan,” katanya.
Baca Juga
Untuk meminimalisir risiko, menurutnya, sejumlah hal perlu dikembangkan antara lain menguatkan keamanan data dan siber, menavigasi teknologi yang kompleks, memperjelas kerangka regulasi, meningkatkan kepercayaan publik, dan melakukan edukasi dan literasi keuangan.
Sementara itu, Kepala OJK Institute Agus Sugiarto menyatakan, meskipun inovasi keuangan berpotensi memperluas akses ke layanan keuangan, tapi penting untuk memastikan bahwa masyarakat rentan tidak semakin tertinggal.
“Menjembatani kesenjangan digital dan menyediakan pendidikan literasi keuangan merupakan kunci untuk mencapai inovasi keuangan yang inklusif,” ucap Irnal.

