Ada Fenomena Makan Tabungan, OJK Beberkan Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa fenomena makan tabungan alias "mantab" yang terjadi di tengah masyarakat menjadi salah satu isu ekonomi dan isu literasi keuangan saat ini.
Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Horas Tarihoran mengungkapkan, fenomena ini paling rentan dialami oleh masyarakat golongan menengah ke bawah atau masyarakat dengan tabungan di bawah Rp 100 juta.
Menurut Horas, fenomena mantab terjadi karena beberapa hal, salah satunya adalah biaya hidup yang meningkat.
"Mungkin kena inflasi, harga-harga naik dan sebagainya. Sementara penghasilannya relatif tetap," ujar Horas saat ditemui Investortrust.id dalam acara Investortrust Goes to Campus "Financial Literacy" di Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (24/9/2024).
Selain karena biaya hidup yang meningkat, fenomena mantab juga terjadi karena layoff dan sebagainya.
Baca Juga
Tekankan Pentingnya Literasi Keuangan, OJK Ajak Generasi Muda Mulai Kelola Keuangan dengan Skema Ini
"Jadi mereka kehilangan pekerjaan atau mungkin pekerjaannya jadinya berubah sifting ke yang pendapatnya lebih rendah. Sementara yang namanya pengeluaran kan relatif orang stabil ya. Makanya tetap juga makan tiga kali sehari dan sebagainya. Sehingga apa? Mereka bertahan hidup dengan cara untungnya adalah mungkin mereka sudah punya tabungan. Tapi berapa lama mereka akan bertahan? Itu yang masih perlu kita pertanyakan. Nah itu tadi yang fenomena menengah ke bawah yang makan tabungan tadi. Mungkin tabungannya kalau kita perkirakan itu di level mungkin pasti yang jelas di bawah Rp 100 juta (mayoritas yang kena)," jelas Horas.
Lebih lanjut, saat disinggung bagaimana kiat agar masyarakat terhindar dari fenomena ini, Horas pun menekankan bahwa edukasi menjadi salah satu hal yang terus dilakukan OJK agar masyarakat dapat mengelola lagi pengeluarannya.
"Mereka bisa hidup lebih hemat, lebih sederhana. Fokus kepada investasi. Karena hanya dua itu yang bisa menyelamatkan mereka. Meningkatkan pendapatan atau mengurangi pengeluaran. Jadi ini melalui literasi keuangan terus-menerus, kita harapkan walaupun kondisinya akan tidak dipastikan masyarakat masih akan ada, tapi paling tidak mereka lebih bisa bertahan. Kalau mereka sudah terampil menekan pengeluaran," jelas Horas.
Sebagai tambahan informasi, berdasarkan data distribusi simpanan bank umum dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) 2024, sekitar 99% rekening di Indonesia atau 563 juta akun memiliki saldo di bawah Rp 100 juta. Mayoritas rekening ini mengalami tren penurunan rata-rata saldo tabungan dalam beberapa tahun terakhir.
Rata-rata besar tabungan sekitar Rp 3 juta sebelum pandemi 2019, kemudian turun menjadi hanya Rp 1,8 juta per April 2024.
Kemudian, berdasarkan perbandingan survei Bank Indonesia (BI) 2019 dan 2024, proporsi pengeluaran terhadap pendapatan meningkat dari 68% menjadi 74%, proporsi simpanan terhadap pendapatan turun dari 20% menjadi 17%, dan proporsi pembayaran cicilan terhadap pendapatan berkurang dari 12% menjadi 9%.
Wakil Pemimpin Redaksi Investortrust Abdul Aziz (kanan) saat memberikan plakat kepada Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Horas Tarihoran (kiri) dalam acara Investortrust Goes to Campus "Financial Literacy" di Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (24/9/2024). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.

