Ekonom Sebut Ancaman Resesi AS Bisa Bawa Berkah Bagi RI, Kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – Potensi resesi ekonomi di Amerika Serikat (AS) disebut dapat berdampak baik bagi sektor usaha di Indonesia.
Hal itu diungkapkan oleh Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman saat ditemui dalam acara Citi Indonesia Digital Leaders Summit 2024 di Hotel Park Hyatt, Jakarta, Rabu (7/8/2024).
“Ya, berkahnya berupa peluang penurunan suku bunga, yang berarti ruang penurunan untuk pelonggaran likuiditas domestik, yang tentunya kalau suku bunga bisa turun, tentunya mendorong sektor usaha di Indonesia," ujar Helmi.
Baca Juga
Laba SeaBank Melesat 353,43% Menjadi Rp 203,84 Miliar di Semester I-2024
Lebih lanjut, Helmi memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga Fed Fund Rate atau FFR sebanyak tiga kali pada tahun 2024, yaitu di September 50 basis poin (bps), November 50 bps dan Desember 25 bps.
"Jadi di September dan November itu 50 basis poin. Kemudian di Desember The Fed mungkin akan menormalisasi kadar penurunannya jadi sekitar 25 basis poin. Jadi total 125 tahun ini," ungkap Helmi.
Kemudian, saat disinggung mengenai dampaknya ke Indonesia dan apakah akan mempengaruhi kebijakan Bank Indonesia (BI), Helmi menuturkan, seharusnya dengan penurunan suku bunga Federal Reserve yang sudah dekat, hal ini dapat menaikkan daya tarik untuk aset-aset fixed income di Amerika maupun secara global, meskipun selektif secara globalnya.
"Dan tentunya cukup positif kita sudah melihat inflow masuk ke pasar obligasi Indonesia dalam 1 hingga 2 minggu terakhir atau beberapa minggu terakhir, setelah ada sinyal penurunan suku bunga dari The Fed, dan inflow ke pasar obligasi Indonesia ini menjadi faktor penyeimbang di pasar valas,” jelas Helmi.
Lebih lanjut kata dia, dengan adanya inflow ke pasar obligasi berarti ada tambahan suplai dolar dari investor asing. “Cuma memang yang bisa menjadi ekspektasi kami memang ruang penurunan BI-Rate itu mungkin tidak sebesar ruang penurunan The Fed," jelas Helmi.
Baca Juga
Di sisi lain, Helmi menilai perekonomian AS akan mengalami perlambatan, tapi tidak sampai menuju hard landing.
"Jadi kita ekspektasinya US slowdown, resesi tapi bukan hard landing. Dalam arti resesinya dalam sekali sehingga memicu instabilitas," ucap Helmi.
Sebagai tambahan informasi, diberitakan Investortrust.id sebelumnya, tingkat pengangguran di AS tercatat mengalami kenaikan 4,3% per Juli 2024. Data Sahm Rule, indikator gejala resesi yang banyak digunakan, menunjukkan bakal terjadinya resesi di AS.
Data Sahm Rule mengalami kenaikan selama tiga bulan berturut-turut, yaitu sejak Mei 2024. Pada Juli 2024, Sahm Rule tercatat di atas 0,53%. Angka 0,53% menandai adanya tekanan ekonomi yang lebih berat ke depan.

