Pertumbuhan Kredit Triwulan II Tinggi 12,36%
JAKARTA, investortrust.id – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan kredit pada triwulan II-2024 tetap tinggi sebesar 12,36% (year on year). Transmisi kebijakan moneter pun dinilai berjalan makin baik.
“Suku bunga pasar uang (IndONIA) bergerak di sekitar BI Rate, yaitu 6,15% pada 16 Juli 2024. Suku bunga SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan per tanggal 12 Juli 2024 tercatat masing-masing 7,30%, 7,39%, dan 7,43%; sejalan dengan lebih tingginya yield US Treasury jangka pendek dibandingkan tenor jangka panjang,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Juli 2024 dengan cakupan triwulanan, di Jakarta, Rabu (17/7/2024).
Baca Juga
Ia menilai, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 2 dan 10 tahun relatif stabil. Per 16 Juli 2024, yield masing-masing sebesar 6,68% dan 6,95%, di tengah yield US Treasury dan premi risiko pasar keuangan global yang masih tinggi.
BI: Likuiditas Perbankan Terjaga
Sementara itu, BI menilai likuiditas perbankan tetap terjaga. Hal ini sejalan dengan tambahan insentif likuiditas kebijakan makroprudensial (KLM), ekspansi operasi moneter, dan aliran masuk portofolio asing, di samping tingginya kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK), sehingga berdampak pada suku bunga perbankan yang tetap terjaga.
"Suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Juni 2024 tercatat masing-masing sebesar 4,63% dan 9,25%. Ini relatif stabil dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya," ucap Perry.
Baca Juga
BI: Stimulus Fiskal Naik, Pertumbuhan Ekonomi 4,7-5,5% Tahun Ini
Pertumbuhan kredit pada triwulan II 2024 tetap tinggi sebesar 12,36% (yoy), didorong oleh kuatnya sisi penawaran dan permintaan. Dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit terjaga didukung oleh pertumbuhan DPK triwulan II-2024 yang kuat, sebesar 8,45% (yoy), berlanjutnya strategi realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan, serta dukungan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Bank Indonesia.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit dipengaruhi oleh permintaan dari korporasi sejalan dengan kinerja penjualan yang tetap tinggi. Selain itu, kemampuan bayar tetap kuat.
"Sementara itu, permintaan kredit dari rumah tangga juga terjaga stabil, terutama dari kelas menengah-atas, seiring dengan ekspektasi penghasilan yang terjaga. Pertumbuhan kredit yang tinggi tersebut terjadi di sebagian besar sektor ekonomi, terutama pada industri, perdagangan, dan pengangkutan," urainya.
Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit ditopang oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi. Masing-masing tumbuh sebesar 15,09% (yoy), 11,68% (yoy), dan 10,80% (yoy) pada triwulan II-2024. Pembiayaan syariah tumbuh tinggi sebesar 13,61% (yoy), sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 5,68% (yoy).
"Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan kredit 2024 diprakirakan berada pada batas atas kisaran 10-12%," tandas dia.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (kedua dari kiri) didampingi segenap deputi berbincang santai dengan wartawan, sebelum membuka Konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2024 di Gedung Thamrin, Kompleks BI, Jakarta, Rabu (17/7/2024). Foto: Investortrust/Elsid Arendra.
Baca Juga
Investasi Portofolio Triwulan II Diprakirakan Net Inflows US$ 4,3 Miliar
Ketahanan sistem keuangan juga terjaga baik. Likuiditas perbankan triwulan II 2024 tetap memadai, tecermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masih tercatat tinggi sebesar 25,36%. Risiko kredit bermasalah perbankan (Non-Performing Loan/NPL) pada Mei juga rendah, sebesar 2,34% (bruto) dan 0,79% (neto).
"Ketahanan sistem keuangan yang kuat ditopang oleh perbankan yang tetap pruden dalam penyaluran kredit/pembiayaan dan memitigasi risiko kredit. Ini termasuk risiko dari berakhirnya stimulus restrukturisasi kredit untuk penanganan pandemi Covid-19," tuturnya.
Ketahanan tersebut didukung oleh tingginya rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan sebesar 26,14%, dan tingginya rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) kredit terhadap total kredit bermasalah bank. Ketahanan perbankan juga ditopang oleh kemampuan membayar korporasi dan rumah tangga yang tetap kuat, sebagaimana hasil stress test perbankan terkini.
"Ke depan, BI terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), dalam memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu," imbuh Perry.

