Bos BCA Sebut Perbankan Punya Tantangan yang Tak Boleh Diabaikan, Apa Itu?
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, tantangan perbankan tahun ini terbilang masih cukup tinggi. Meski demikian, di tengah tantangan tersebut perbankan Indonesia dikatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kinerja yang tetap stabil dan berkelanjutan.
Hal ini tercermin dari kondisi likuiditas yang terjaga, pertumbuhan kredit yang tinggi dan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang masih terjaga.
“Asal kıta growth normal misal kredit di sekitar 10%-12% pasti aman,” katanya kepada investortrust.id, Selasa (9/7/2024).
Adapun BCA dan entitas anak membukukan kenaikan total kredit sebesar 17,1% secara tahunan menjadi Rp 835,7 triliun per Maret 2024. Pertumbuhan total kredit tersebut berada di atas rata-rata industri. Sementara hingga akhir tahun ini, BCA membidik pertumbuhan kredit sebesar 9%-10%. Target kredit tersebut sejalan dengan laju pertumbuhan kredit BCA sebesar 15,91% atau mencapai Rp 826,72 triliun per Mei 2024.
Sementara OJK mencatat kredit perbankan secara total per Mei 2024 mengalami pertumbuhan 12,15% secara tahunan menjadi Rp 7.376 triliun. Pertumbuhan bulanan kredit perbankan yakni 0,9%.
Baca Juga
Siapa pun Bisa Lancarkan Serangan Siber Pakai Botnet, Modalnya Mulai dari Rp 400 Ribuan
Selain itu, menurut Jahja ada persoalan utama lain yang harus menjadi perhatian kalangan perbankan, yakni serangan siber atau cyber crime. Serangan siber yang terjadi terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) menjadi cerminan industri perbankan untuk terus meningkatkan keamanan yang berlapis.
“Menurut saya up grade terus human resource management untuk layani nasabah dan cyber security diperkuat,” ucapnya.
BCA diakui Jahja, sejak lama bank swasta nasional nomor satu di Indonesia tersebut menjadi target serangan siber. “Dari dulu ditarget, tapi Puji Tuhan tidak tembus,” katanya.
Seperti diketahui, dengan pesatnya teknologi informasi, interaksi nasabah dengan BCA secara digital juga meningkat. Hal ini diikuti oleh risiko kejahatan teknologi, sehingga BCA terus meningkatkan sistem keamanan teknologi informasi (TI). Pengembangan sistem keamanan TI BCA dilakukan dengan tujuan untuk melindungi keamanan data dan memastikan sistem TI dapat selalu siap melayani transaksi nasabah, termasuk menangkal dan mengantisipasi serangan siber, serta potensi fraud.
Baca Juga
Cegah Serangan Siber, Ini Standar Keamanan yang Seharusnya Diterapkan oleh Pemerintah
Sementara itu, Executive Vice President (EVP) Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn mengatakan, BCA telah menyiapkan perlindungan berlapis untuk menangkal serangan siber.
"BCA senantiasa melakukan pengamanan dengan standar keamanan berlapis, manajemen risiko dan liability, serta akuntabilitas untuk menjaga data dan transaksi digital nasabah tetap aman. Pengamanan berlapis dilakukan melalui pendekatan people, process, dan technology," ucapnya.

