Jangan Salah, di Indonesia Banyak Orang Ultrakaya, Berapa Jumlah Mereka?
JAKARTA, investortrust.id – Dengan pendapatan per kapita saat ini sekitar US$ 4.800, Indonesia memiliki banyak orang ultrakaya alias ultra high net worth (ultra-HNW) yang jumlahnya terus meningkat. Tahun depan, ultra-HNW di Indonesia digadang-gadang mencapai 1.400 orang.
“Dari tahun ke tahun, jumlah ultra-HNW terus meningkat dengan pertumbuhan yang eksponensial. Pada 2025, ultra-HNW diperkirakan berjumlah 1.400-an orang,” kata Dewan Penasihat Certified Wealth Managers' Association (CWMA) yang jugaChief Executive Officer (CEO) MCI Asia Gorup, Maikel Sajangbati.
Baca Juga
Tabungan Orang Kaya Meningkat meski Terus Berbelanja, Bagaimana Kelas Menengah Bawah?
Maikel mengungkapkan hal itu dalam wawancara podcast Konvergensi yang dipandu CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu di studio Investortrust, The Convergence Indonesia (TCI), kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Rabu (12/6/2024).
Berdasarkan kriteria internasional, menurut Maikel Sajangbati, orang kaya terbagi atas empat golongan, yaitu affluent, high net worth individual (HNWI), very-HNWI, dan ultra-HNW. Affluent adalah individu dengan aset bersih atau aset likuid US$ 250 ribu hingga US$ 1 juta (sekitar Rp 4 miliar sampai Rp 16 miliar, dengan kurs Rp 16.000 per dolar AS).
Adapun HNWI yaitu individu dengan aset bersih atau aset likuid di atas US$ 1 juta (di atas Rp 16 miliar). Sedangkan very-HNWI memiliki aset bersih atau aset likuid US$ 5 juta hingga US$ 30 juta (Rp 80 miliar hingga Rp 480 miliar) dan ultra-HNW memiliki aset bersih atau aset likuid di atas US$ 30 juta (di atas Rp 480 miliar).
Namun di Indonesia, kata Maikel, khusus kategori affluent mengalami penyesuaian, yaitu individu dengan aset bersih atau aset likuid Rp 100 juta sampai Rp 1 miliar. Di luar affluent, definisi untuk semua kategori sama dengan internasional.
“Di Indonesia, jumlah affluent saat ini diperkirakan mencapai 20-30 juta orang. Sedangkan jumlah HNWI, very-HNWI, dan ultra-HNW totalnya mencapai2 juta orang,” tutur dia.
Maikel Sajangbati menjelaskan, jumlah orang kaya, orang sangat kaya, dan orang ultrakaya di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun, terutama setelah krisis moneter yang mencabik-cabik perekonomian nasional pada 1998.
Baca Juga
Maikel mengemukakan, setiap krisis ekonomi selalu melahirkan orang kaya baru. Soalnya, di satu sisi, krisis melahirkan bahaya dan bencana. Tapi di sisi lain, krisis menciptakan peluang.
“Krisis juga melahirkan opportunity. Saat krisis, arus informasi lebih banyak sehingga orang yang mengalami krisis mampu mengatasi masalahnya. Dengan informasi yang tepat, iabisa mengatasi krisis, bahkan mengambil keuntungan dari krisis,” papar dia.

