LPS: Pandangan Bahwa Indonesia akan Menuju Era 98 Salah Kaprah, Mereka Enggak Ngerti Data
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa perekonomian Indonesia tengah menuju krisis seperti tahun 1998. Menurutnya, kekhawatiran itu tidak berdasar dan bertolak belakang dengan data-data fundamental ekonomi terkini.
“Jadi, pandangan orang di luar bahwa kita mau menuju 98 lagi, itu salah kaprah dan mereka nggak ngerti data seperti apa,” ujarnya, dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, yang digelar di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Purbaya mengungkapkan, pada triwulan keempat tahun lalu, sejumlah indikator memang menunjukkan pelemahan ekonomi, seperti penjualan otomotif, semen, dan ritel yang mengalami kontraksi. Namun, sejak awal 2025 trennya sudah mulai berbalik.
“Di bulan Februari, 4% untuk (penjualan) sepeda motor, mobil 2,2%. Kita lihat lagi, ritel juga sudah mulai positif pertumbuhannya, penjualan semen juga di bulan Januari, Februari, sudah positif pertumbuhannya. Jadi sepertinya dari sisi demand, ada pembalikan arah ekonomi, menunjukkan kondisinya baik-baik saja,” katanya.
Baca Juga
LPS Jamin 626,25 Juta Rekening Nasabah per Januari 2025, Dalam Sebulan Naik 1,58 Juta
Dari sisi dana pihak ketiga (DPK) perbankan, lanjut Purbaya, pertumbuhan DPK juga turun ke level 4,5%. Tapi arahnya berbalik di awal 2025, di mana DPK tumbuh 5,5% ke ke 6%, atau menuju ke level yang normal kembali.
“Kita lihat indeks PMI Manufacturing itu di bulan awal tahun (2025) tiba-tiba loncat ke positif, Februari tinggi, Maret agak turun sedikit, tapi levelnya masih tinggi 52,4%. Artinya, para pengusaha melihat ke depan kayaknya demand-nya masih tinggi sehingga mereka meningkatkan belanjanya,” ucapnya.
“Ini kan tanda-tanda suatu ekonomi yang berbalik,” sambung Purbaya.
Baca Juga
Indonesia’s Early 2025 Deflation Driven by Power Subsidies, Not Weak Demand: LPS Chairman
Di sisi bersamaan, LPS juga mencatat Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang naik ke atas angka 100 pada Februari 2025, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Survei ini dilakukan terhadap 1.700 kepala keluarga di berbagai wilayah di Indonesia yag menunjukkan masyarakat optimistis terhadap kondisi ekonomi Indonesia ke depan.
LPS, lanjut Purbaya, juga mengembangkan suatu indeks yang disebut Leading Economy Index, atau indeks yang menggambarkan arah ekonomi dalam enam hingga 12 bulan ke depan. Hasilnya, trennya terus meningkat.
“Jadi itu adalah bola kristalnya ekonomi Indonesia. Biasanya tidak pernah salah. Ini di 2020 turun ke bawah, setelah itu naik ke atas. Sekarang juga trennya naik ke atas. Artinya dari sekarang, bulan Maret ke depan, sampai tahun depan, ekonomi kita akan terus ekspansi,” ujarnya.

