Langkah Berani Tiongkok Dorong Harga Emas Kembali Ukir Rekor All Time High
Harga emas menyentuh harga tertinggi sepanjang masa ke level US$ 2.432 setelah Tiongkok menjual treasury AS secara besar-besaran untuk membeli emas meningkatkan optimisme pada harga emas. Ketegangan atas konflik di Timur Tengah pun masih menjadi pendorong bagi harga emas tetap berada di level tinggi.
Adapun meninjau dari sisi teknis, harga emas berpotensi menemui resistance terdekat pada level US$ 2.480. "Sementara apabila menemui katalis negatif, maka harga emas berpotensi menemui support terdekat pada level US$ 2.370," tulis riset ICDX, Senin (20/5/2024).
Seperti diketahui, baru-baru ini Tiongkok baru saja menjual treasuri dan obligasi Amerika Serikat senilai US$ 53,3 miliar yang digunakan untuk membeli emas. Hal serupa juga dilakukan oleh Belgia yang baru saja menjual US$ 22 juta produk treasuri AS. Hal yang dilakukan oleh Belgia tersebut juga merupakan aksi atas hubungan perdagangannya dengan Tiongkok. Peralihan ke arah emas ini didorong oleh kebutuhan Tiongkok akan pasar dengan likuiditas yang cukup untuk menyerap cadangan emas yang sangat besar
Baca Juga
Sanksi ekonomi yang dikenanakan Amerika kepada Tiongkok juga menjadi alasan bagi Tiongkok untuk beralih ke emas yang kebal terhadap sanksi. Hal ini membuat hubungan AS-Tiongkok memburuk. Saat ini AS telah menaikkan tarif terhadap impor Tiongkok dan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan Tiongkok yang mendukung Rusia, sehingga semakin meningkatkan ketegangan.
Oleh karena itu, strategi Tiongkok untuk melakukan divestasi Treasury dan berinvestasi pada emas diperkirakan akan terus berlanjut, sehingga meningkatkan permintaan akan emas.
Saat ini spekulasi berkembang bahwa Federal Reserve AS (Fed) dapat menurunkan suku bunga pada tahun 2024. Hal tersebut pun diperkirakan akan turut mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi karena suku bunga yang lebih rendah meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bagi investor. Spekulasi ini pun sejalan dengan data perekonomian Amerika yang mengindikasikan adanya pelemahan ekonomi.
Baca Juga
Harga Tembaga Melambung Balapan dengan Emas, Siapa Konglomerat Diuntungkan?
Index CPI AS untuk bulan April turun menjadi 0,3% MoM dari kenaikan 0,4% pada bulan sebelumnya. Walaupun mengalamai penurunan, namun hal ini masih sejalan dengan ekspektasi pasar.
Pendekatan yang hati-hati dan restriktif dari The Fed akan kebijakan suku bunga ini mungkin membatasi kenaikan logam mulia, karena suku bunga yang lebih tinggi mungkin akan mengurangi permintaan investasi secara keseluruhan terhadap emas. Saat ini para pejabat The Fed masih bersikap hawkish dan menyatakan bahwa saat ini masih diperlukan untuk mempertahankan suku bunga yang tinggi, ketua The Fed Jerome Powell pun mengatakan bahwa menurutnya bank sentral AS butuh lebih banyak data untuk mendapat keyakinan apakah inflasi akan turun menuju 2%.

