Serangan Siber Jadi Risiko Teratas Bidang Keuangan
JAKARTA, investortrust.id - Survei yang dilakukan Aon plc (Aon) menunjukkan, serangan siber dan pelanggaran data menjadi risiko terbesar yang saat ini dihadapi berbagai perusahaan dan lembaga keuangan di seluruh dunia.
Melansir Finews Asia, Minggu (19/5/2024), perusahaan penyedia jasa dan produk mitigasi risiko, seperti asuransi, dana pensiun dan asuransi kesehatan asal Britania Raya tersebut menyatakan, 40% lembaga dari total lembaga keuangan tidak memiliki rencana untuk mengelola tantangan terkait risiko-risiko yang ada, termasuk serangan siber.
“Saat ini hanya 60% lembaga keuangan yang mempunyai rencana untuk merespons risiko, lebih rendah dibanding 2021 yang mencapai 25%,” ujar Head Aon di Hong Kong, Sucheng Chang.
Baca Juga
Pakar ini Sebut Indonesia Harus Berikan Perhatian di Industri Keamanan Siber
Chang menjelaskan, selain risiko serangan siber di posisi teratas, ada risiko atau tantangan lainnya yang dihadapi lembaga keuangan, seperti perubahan peraturan, perlambatan ekonomi, risiko likuiditas, kegagalan teknologi.
“Hanya 20% lembaga keuangan yang telah betul-betul menghitung risiko-risiko yang akan terjadi. Bahkan, diperkirakan industri akan mengalami kerugian pendapatan rata-rata sekitar 26%,” kata Chang.
Menurut dia, saat ini perusahaan-perusahaan jasa keuangan terkemuka di dunia terus berevolusi untuk memitigasi risiko-risiko saat ini dan ke depan.
“Dengan menerapkan analisis data dan kemampuan yang canggih untuk menilai, mengukur dan mengelola risiko yang mereka hadapi saat ini dan di masa mendatang,” jelas Chang.
Baca Juga
Pakar Keamanan Siber Ini Beri Saran Memanfaatkan AI Tanpa Picu Disrupsi Pekerjaan
Survei dua tahunan yang dilakukan Aon edisi 2023 didasarkan pada tanggapan dari 3.000 manajer risiko, pemimpin C-suite, bendahara, talenta professional, dan eksekutif lainnya dari 51 negara dan wilayah di dunia.
