Mantan Agen FBI Ungkap Kerugian Akibat Kejahatan Siber Capai US$ 7 Triliun pada 2023
JAKARTA, investortrust.id - Mantan agen khusus FBI di bidang keamanan siber Miguel Clarke membeberkan kerugian akibat kejahatan siber mencapai lebih dari US$ 7 triliun pada 2023.
Miguel membeberkan, kerugian sebesar US$ 4 triliun ditimbulkan dari perdagangan ilegal, US$ 3 triliun akibat pencurian kekayaan intelektual, dan US$ 180 miliar merupakan biaya yang dikeluarkan korban untuk mengatasi ransomware.
Baca Juga
Adakami: Digitalisasi Jadi Peluang, Tapi Ada Tantangan Kejahatan Siber
“Jumlah tersebut setara dengan 7% PDB global. Jadi untuk semua kerugian tersebut, 7% dari PDB global akan hilang dan dimonetisasi penjahat. Jika Anda melihatnya sebagai suatu perekonomian, maka ini akan menjadi perekonomian terbesar ketiga di dunia,” ujar Miguel dalam diskusi yang digelar Kadin Indonesia bertajuk "Cyber Risk Resilience: Strengthening and Prioritizing Your Digital Defenses” di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (17/5/2024).
Lebih lanjut, Miguel mengatakan kerugian rata-rata dari pelanggaran data di Amerika Serikat sebesar US$9,4 juta. Bahkan, menurut penelitian yang dijelaskan oleh Miguel, 60% dari usaha kecil dan menengah (UKM) akan gulung tikar dalam waktu dua tahun setelah pelanggaran.
“Jadi biayanya sangat-sangat tinggi bagi organisasi yang terkena dampaknya,” ujar Miguel.
Baca Juga
Waspada Kejahatan Siber, AdaKami Ingatkan Pentingnya Menjaga Data Pribadi
Sementara itu, ia menuturkan jenis serangan digital yang saat ini merajalela adalah phishing, malware, dan ransomware.
“Selain itu, jenis serangan zero day sangat sulit untuk dipertahankan, karena serangan zero day adalah serangan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya,” jelasnya.

