BFI Finance (BFIN) Bukukan Pembiayaan Baru Rp 4,8 Triliun di Kuartal I 2024
JAKARTA, investortrust.id - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) sukses membukukan nilai pembiayaan baru sebesar Rp 4,8 triliun di kuartal pertama tahun ini. Direktur Keuangan BFI Finance, Sudjono mengungkapkan, capaian ini mencerminkan hal yang baik dalam mengawali kinerja di tahun ini.
“Total pembiayaan yang dikelola sebesar Rp 22,5 triliun hingga Maret ini dengan nilai pembiayaan baru tercatat sebesar Rp 4,8 triliun,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Jumat (26/4/2024).
Menurut Sudjono, berdasarkan piutang pembiayaan yang dikelola, bisnis BFI Finance masih didominasi oleh produk pembiayaan beragunan kendaraan roda empat dan roda dua dengan pangsa 61,7%. Lalu diikuti dengan pembiayaan untuk pembelian unit kendaraan roda empat bekas dan baru sebesar 14,9%, pembiayaan alat berat dan mesin 14,7%, pembiayaan beragunan sertifikat properti 4,5%. Serta pembiayaan lainnya menggenggam 4,2%.
“Portofolio pembiayaan dengan tujuan ekspor produktif terlapor paling banyak, yakni sebesar 58,2% untuk pembiayaan modal kerja. Di samping itu, pembiayaan investasi naik 20,1%, pembiayaan multiguna 18,7%, dan berbasis syariah 3,0%,” katanya.
Baca Juga
Pembiayaan Baru BFI Finance (BFIN) Sentuh Rp 19,1 Triliun Sepanjang 2023
Besaran total pembiayaan yang dikelola BFI Finance tersebut, lanjut Sudjono, turut menopang pertumbuhan aset dari pihaknya yang tercatat naik 0,9% atau dari Rp 24,0 triliun pada kuartal pertama 2023 menjadi Rp 24,2 triliun di tahun ini.
“Dari sisi pendapatan, perusahaan mencatat total pendapatan sebesar Rp 1,6 triliun dengan laba bersih terkumpul di kuartal ini sebesar Rp 361,4 miliar. Performa imbal hasil rata-rata aset (RoAA) dan imbal hasil rata-rata atas ekuitas (RoAE) masing-masing berada di level 7,5% dan 14,9%,” katanya.
Untuk mendorong kinerja di tahun ini, ada sejumlah strategi yang akan dilakukan BFI Finance, seperti pengembangan produk keuangan baru serta optimalisasi produk yang sudah berjalan. Sehingga, mampu mendukung target pertumbuhan bisnis seiring dengan upaya pengembangan teknologi. Di sisi yang bersamaan, BFI Finance sendiri tengah mendorong pengembangan bisnis berbasis teknologi end-to-end dan berkelanjutan.
“Nilai tercatat untuk intangible asset atau aset tak berwujud peranti lunak meningkat sekitar 58,4% dari Rp 151,8 miliar menjadi Rp 240,4 miliar, di mana biaya ini dikeluarkan untuk mengakselerasi pengembangan teknologi sistem operasional bisnis perusahaan,” ungkap Sudjono.

