Simak Baik-Baik, Ini Pandangan Perusahaan Pengelola Aset Terbesar di Dunia tentang Ekonomi AS
JAKARTA, investortrust. id - Perusahaan manajemen investasi terbesar di dunia, BlackRock, memperkirakan laju inflasi Amerika Serikat (AS) terus melandai. Perusahaan yang mengelola aset US$ 9,4 triliun per kuartal II-2023, atau sembilan kali produk domestik bruto (PDB) Indonesia itu yakin AS mampu mencapai target inflasi 2%.
BlackRock bahkan optimistis Negeri Paman Sam dapat mencapai target inflasi 2% secara tahunan (year on year/yoy) tanpa terjerumus ke dalam jurang resesi melalui serangkaian kebijakan moneter ketat yang diterapkan The Fed.
Menurut BlackRock, dalam menghadapi perkembangan global yang dinamis, kuncinya adalah fokus pada bagaimana ekonomi bergerak. "Para pelaku pasar harus menyesuaikan diri dengan rezim ekonomi baru,” jelas manajemen BlackRock dalam outlook ekonomi global 2024 yang dipublikasikan baru-baru ini.
Baca Juga
Bank Sentral AS, The Fed, sukses memadamkan api inflasi dalam setahun terakhir. Pada Desember 2022, inflasi AS bercokol di level 6,5% (yoy), kemudian turun ke posisi 6,4% pada Januari 2023, dan terus melandai hingga mencapai 3% pada Juni.
Namun, pada Juli 2023, inflasi kembali merangkak naik ke level 3,2%, dan kembali naik menjadi 3,7% pada Agustus. Inflasi bertahan di posisi 3,7% pada September, lalu menurun pada Oktober dan November masing-masing ke level 3,2% dan 3,1% (yoy).Namun, inflasi inti (core inflation) masih di posisi 4%.
Untuk menekan inflasi, The Fed sejak Maret 2022 sudah 11 kali menaikkan suku bunga acuan (Fed Funds rate/FFR) atau sebesar 525 bps. Dalam rapat kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 13 Desember 2023, The Fed mempertahankan FFR di level 5,25%-5,50%.
BlackRock dalam pandangannya menyatakan, berbeda dengan ekonomi utama lainnya, ekonomi AS tumbuh pada klip yang kuat pada kuartal III-2023 sejalan dengan penurunan inflasi inti secara tajam. Secara kuartalan, ekonomi AS pada kuartal III-2023 tumbuh 5,2%.
Baca Juga
BlackRock mengungkapkan, hampir 7 juta pekerjaan baru telah diciptakan di AS sejak Januari 2022. Ekonomi AS juga telah berhasil keluar dari lubang pandemi Covid-19. Saat Covid merebak, 22 juta pekerjaan hilang di AS.
Meski demikian, menurut BlackRock, pertumbuhan ekonomi AS masih di bawah ekspektasi. “Ekonomi AS tumbuh kurang dari 1,8% per tahun sejak pandemi. Hal itu jauh di bawah tren yang diharapkan sebelum pandemi, juga jauh di bawah konsensus,” papar perusahaan pengelola dana investasi asal AS tersebut.
Kebangkitan ekonomi AS, menurut BlackRock, menghadapi dilema karena diikuti inflasi yang menjulang. “Ini bersifat struktural. Di tengah jalur pertumbuhan yang lebih lemah, inflasi masih tinggi sehingga direspons dengan suku bunga yang lebih tinggi dan tingkat utang yang jauh lebih tinggi,” jelas BlackRock.

