Berkat Fintech P2P Lending, Omzet UMKM Ini Tembus Rp 1 Miliar
JAKARTA, Investortrust.id - Manfaat pendanaan dari platform financial technology peer-to-peer (fintech P2P) lending semakin banyak dirasakan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, khususnya bagi mereka yang belum tersentuh oleh layanan keuangan dari perbankan.
Berkat proses digitalisasi yang dihadirkan, fintech P2P lending menjadi solusi bagi UMKM mendapakan permodalan secara mudah, cepat dan nyaman.
Hal itu pula yang dirasakan oleh Furqon bersama sang istri Ratna Sari. Pemilik UMKM dengan brand "Bubur Ayam Kampung Nyemplung" ini turut merasakan manfaat hadirnya salah satu platform fintech P2P lending, PT Mapan Global Reksa (Findaya).
Furqan bercerita awal mula terhubung Findaya, saat tergabung sebagai mitra di aplikasi GoBiz dari GoJek.
“Awal mulanya kita dapat plafon dengan nominal Rp 650 juta. Tapi saya tidak ambil semua jadi sesuai kebutuhannya saja. Saya tarik sekitar Rp 150 juta. Saya mengajukan pinjaman setelah pandemi, hingga sekarang sudah 3 kali pengajuan. Fintech P2P lending mudah, tidak ada persyaratan yang memberatkan pelaku usaha, tanpa agunan, dan pencairannya cepat,” ujar Furqon saat ditemui awak media di acara Media Tour Success Story UMKM Penerima Manfaat Fintech P2P Lending (Part 4) yang digelar oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) di kawasan Tangerang Selatan, Rabu (24/1/2024).
Lebih lanjut, Furqon menjelaskan, usaha yang sudah ia jalani sejak tahun 2010 silam ini sebelumnya telah memiliki 12 outlet dengan omzet per bulannya mencapai Rp 800 juta.
Namun, berkat pendanaan yang didapat dari Findaya, omzetnya pun mengalami peningkatan menjadi Rp 1 miliar per bulan.
Adapun, pendanaan dari Findaya digunakannya untuk ekspansi usaha dengan membeli 2 unit food truck. Menurut Furqon, untuk 1 unit food truck bisa mendatangkan omzet harian di angka Rp 1,8 juta hingga 2,5 juta.
Oleh karena itu, Furqon bersama istri pada tahun ini berencana menambah jumlah food truck.
Mengenal "Bubur Ayam Kampung Nyemplung"
Dalam kesempatan yang sama, Ratna Sari pun juga turut bercerita mengenai perjalanan usaha yang ia tekuni bersama sang suami.
Berawal dari kesukaan keduanya terhadap masakan rumahan, sehingga tercetuslah ide untuk membuka usaha bubur ayam.
"Usaha bubur ini berdiri tahun 2010. Berawal dari makanan rumah atau menu yang biasa kami masak di waktu weekend," kata Ratna.
Ratna menjelaskan, "Bubur Ayam Kampung Nyemplung" memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh bubur ayam pada umumnya di Indonesia. Pasalnya, daging ayam yang disajikan tidak dipotong atau disuwir di atas bubur, melainkan menyatu dengan buburnya.
"Kita tidak sama dengan bubur yang lain. Pada umumnya itu ayamnya disuwir, tapi ini ada di dalam bubur, makanya kita namakan bubur nyemplung. Terinspirasi dari bubur yang ada di Hongkong China, Jepang, dan Korea, dan wilayah Asia lainnya," kata Ratna.
Meski demikian, Ratna mengaku, jauh sebelum menekuni usaha bubur ayam ini, ia dan suami telah lebih dulu mecoba membuka beragam usaha, seperti katering makanan Sunda hingga Padang.
"Saya sebelumnya juga mencoba usaha katering di makanan Sunda, Padang, jadi sudah bermacam-macam usaha yang kita jalani. Alhamdulillah setelah mencoba berbisnis bubur, ternyata di bubur rezekinya. Jadi, sekarang ini fokusnya di bubur saja," imbuhnya.
Dalam kesempatan berbeda, Head of Productive Lending Findaya, Timothy Prawiromaruto menyebut, sebagai bagian dari GoTo Finansial, Findaya diharapkan menjadi solusi operasional dan finansial bisnis yang lebih mudah dan efisien bagi pemilik usaha, apapun skalanya.
"Hingga saat ini, Findaya telah menyalurkan pinjaman hingga triliunan kepada pemilik UMKM di Indonesia secara aman, mudah, dan bertanggung jawab," tandasnya.

