BOJ Akhiri 8 Tahun Kebijakan Suku Bunga Negatif
TOKYO, investortrust.id – Bank Sentral Jepang (BOJ) secara resmi mengakhiri kebijakan suku bunga negatif pada pertemuannya, Selasa (19/3/2024). Kebijakan ini sekaligus menandai kenaikan suku bunga acuan untuk pertama kalinya selama 17 tahun.
Selain menaikkan suku bunga acuan dari minus 0,1% menjadi kisaran o% hingga 0,1%, Bank Sentral Jepang juga mengakhiri kebijakan kontrol terhadap kurva yield (yield curve) suku bunga.
BOJ mengakhiri kebijakan suku bunga negatif yang telah berlangsung selama delapan tahun. Rata-rata suku bunga acuan di Jepang mencapai 2,28% selama periode 1972 hingga 2024, dan mencapai all time high (ATH) sebesar 9% pada Desember 1973. Sedangkan rekor terendah terjadi pada Januari 2016 sebesar minus 0.10%.
Menurut Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, kini BOJ telah menaikkan level suku bunga di atas inflasi. Kebijakan ini setidaknya bisa memberikan dua dampak bagi ekonomi Jepang.
Pertama, kenaikan gaji akan bisa mengerek ke permintaan. Jadi, kata Andry, inflasi yang terjadi karena faktor demand driven. “Kenaikan permintaan bisa juga mendorong sisi permintaan dari PDB mereka,” kata Andry kepada investortrust.id.
Dampak kedua, kenaikan inflasi dan suku bunga bisa menurunkan asset price mereka. “Ini bisa menurunkan daya beli juga kalo direalisasikan,” ucapnya.
Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda sebelumnya menyatakan perekonomian Jepang sudah mulai pulih namun juga menunjukkan beberapa tanda pelemahan, memberikan penilaian yang sedikit lebih suram dibandingkan bulan Januari sehubungan dengan serangkaian data konsumsi yang lemah baru-baru ini.
Pernyataan tersebut muncul menjelang pertemuan kebijakan bank sentral minggu depan, di mana dewan akan memperdebatkan apakah prospeknya cukup cerah untuk menghapuskan stimulus moneter dalam jumlah besar.
Melansir dari Channel News Asia (CNA), Kamis (14/3/2024), Ueda menyebut, konsumsi makanan dan kebutuhan sehari-hari melemah di tengah harga yang lebih tinggi. Meski begitu, Ueda menyebut belanja rumah tangga membaik secara moderat di tengah harapan kenaikan upah di masa depan.
“Perekonomian Jepang mulai pulih secara moderat, meskipun kelemahan terlihat pada beberapa data,” kata Ueda, ketika ditanya oleh seorang anggota parlemen tentang tanda-tanda pelemahan dalam konsumsi dan belanja modal baru-baru ini.
Lebih lanjut, Ueda menyampaikan, penilaian tersebut sedikit kurang optimis dibandingkan dengan yang ditunjukkan dalam laporan triwulanan terbaru BOJ yang diterbitkan pada bulan Januari, yang menggambarkan perekonomian sebagai “pemulihan moderat”.
Ueda memberikan sedikit petunjuk mengenai seberapa cepat BOJ akan mengakhiri suku bunga negatif yang telah diterapkan sejak tahun 2016.
Namun, dia mengatakan ada berbagai cara untuk meningkatkan biaya pinjaman jangka pendek jika kondisinya memungkinkan untuk mengakhiri suku bunga negatif.
Berdasarkan kebijakan suku bunga negatifnya, BOJ saat ini membebankan bunga sebesar 0,1% pada kelebihan cadangan lembaga keuangan yang diparkir di bank sentral untuk mendorong mereka meminjamkan uangnya.
Salah satu idenya, kata Ueda, adalah memberikan bunga positif pada cadangan devisa, yang akan membantu menaikkan suku bunga overnight call.
Ueda membeberkan, jika inflasi meningkat dan memerlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut, BOJ dapat melakukannya dengan menaikkan suku bunga jangka pendek daripada mengurangi kepemilikan obligasinya yang besar.
“Kami fokus pada apakah siklus inflasi upah yang positif akan dimulai, dalam menilai apakah pencapaian target harga kami yang berkelanjutan dan stabil sudah mulai terlihat. Berbagai data telah keluar sejak Januari dan kemungkinan besar kami akan mengeluarkan data tambahan pada minggu ini. Kami akan mencermati data tersebut secara komprehensif, dan mengambil keputusan kebijakan moneter yang tepat," imbuhnya.
Sementara itu, Pemerintah Jepang pada Senin (11/3/2024) mengatakan bahwa negaranya berhasil lolos dari resesi pada kuartal empat 2023 dengan pertumbuhan ekonomi pada Oktober-Desember mencapai 0,4% berkat belanja modal yang kuat.
Produk Domestik Bruto (PDB) sektor riil yang disesuaikan dengan inflasi direvisi naik dari laporan sebelumnya yang turun 0,4%. Kinerja tersebut merupakan perkembangan positif bagi Bank of Japan karena pasar keuangan memperkirakan bank sentral tersebut akan mengakhiri kebijakan suku bunga negatifnya pada Maret atau April ini.
Meski kinerja keuangan direvisi menjadi positif, Jepang masih kehilangan statusnya sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia yang digantikan oleh Jerman pada 2023.

