2024, Saatnya Menyambut Super Apps Milik BNI
JAKARTA, Investortrust.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas teknologi digital banking-nya demi memberikan kemudahan dan kenyamanan bertransaksi bagi para nasabah. Utamanya, peningkatan kapabilitas ini akan meningkatkan keamanan proses transaksi, jelang peluncuran Super Apps yang akan dilansir tahun 2024.
Bank yang pernah punya peran sebagai bank sentral di periode awal masa kemerdekaan ini memang punya agenda besar di tahun 2024. Salah satunya melansir Super Apps yang akan menjadi layanan purna digital, melengkapi layanan digital yang sudah tersedia.
Disampaikan Direktur Technology & Operations PT Bank Negara Indonesia Tbk Toto Prasetio, sejak bergabung dengan tim IT BNI pada September 2022, ia segera memetakan peluang dan tantangan sisi information technology di Perseroan, dan hasilnya terbentuklah peta jalan IT BNI untuk tiga tahun ke depan. Salah satunya yang ditetapkan dalam peta jalan tersebut adalah pembuatan Super Apps yang akan mengakomodir segala kebutuhan nasabah secara digital.
“Kita punya aspirasi, tahun depan tadi sudah dikasih clue, kita akan punya Super Apps baru,” ujar Toto dalam kesempatan BNI Year End Executive Chief Editor Gathering 2023,di Jakarta, Rabu (20/12/2023).
Baca Juga
Keren! BNI Targetkan Kurangi Emisi Karbon Operasional Lebih Cepat di 2028
Sekadar informasi saja, saat ini digital banking di BNI mampu menangani 4.000 transaksi per detik. Dengan pengembangan Super Apps, maka BNI harus mampu mengerek kemampuannya dalam menangani jumlah transaksi yang dipastikan akan meningkat.
“Pada saat saya punya Super Apps baru, teknologi yang saya applied akan menggunakan teknologi terkini yang mampu mendukung peningkatan jumlah transaksi. Jumlah transaksi hingga 4.500 per detik tidak akan pernah cukup.” ujarnya. “Berikutnya kita melakukan perubahan di infrastruktur arsitektur. Sekarang, kita optimistis bisa men-support 10 kali lipat sampai 44 ribu transaksi per detik, tanpa harus mengganti core banking,” imbuh Toto.
Dalam peta jalan IT yang telah disusun, emiten berkode bursa BBNI ini menetapkan 3 pilar untuk transformasi digital di Perseroan. Pilar pertama, kata Toto adalah langkah BNI yang mendukung inovasi bisnis dan transformasi, diikuti pilar kedua berupa IT resiliency, dan pilar ketiga adalah IT organization dan people.
Sebagai ancang-ancang, salah satu yang disiapkan oleh Toto adalah ketersediaan capital expenditure untuk menopang belanja di sektor IT. “Kalau ditanya, waktu saya masuk tahun 2022, budget IT masih sekitar Rp 900 miliar. Lalu tahun 2023 saya menghadap direksi, saya minta budget 3 tahun dari 2023 hingga tahun 2025, saya dapatkan dapatkan approval capex IT sebesar Rp 5 triliun,” papar Toto.
Di tahun ini, dari capex sebesar Rp5 triliun sudah terserap sebesar Rp1,2 triliun. Untuk tahun depan, tim di bawah komandonya bakal diperkenankan mendapatkan dana sebesar 1,9 triliun, dan sisanya akan digunakan pada tahun 2025.
Baca Juga
Setelah Transformasi Bisnis, Market Cap BNI Melesat Hampir Tiga Kali Lipat
Lantas apa saja yang sudah dan akan dilakukan Toto beserta tim? Yang jelas, kata Toto, pihaknya berupaya memenuhi komponen pembentukan IT yang ‘sehat’, yakni Reliability, Availability, Scalability dan Security (RASS).
Soal reliability, BNI kini menggunakan dua data center yang aktif, ditambah dengan server berbasis cloud. “Kita mungkin the only bank, bank Buku 4 yang bisa running aplikasinya aktif di dual data center,” kata Toto.
Tak sekadar menyiapkan dual data center yang aktif secara bersamaan, BBNI juga melakukan revamp keseluruhan infrastruktur IT, agar secara keseluruhan sistem IT di BNI bisa mendukung layanan transaksi yang lebih besar di masa mendatang.
Toto menyatakan optimismenya bahwa di 2024 BNI bisa segera melahirkan super apps terbaru, yang akan mendukung loan management system, baik retail maupun wholesale. Saat ini tim IT di BNI diperkuat oleh 1.700 orang sumber daya, yang akan bekerja secara simultan mengembangkan aplikasi-aplikasi yang akan memperkuat layanan Super Apps BNI.
Last but not least, Toto juga memaparkan soal security yang akan mencegah terjadinya cyber attack. Ia memastikan bahwa dari sisi infrastruktur, Super Apps BNI nantinya akan menjadi platform yang mampu menangkal terjadinya serangan siber. Salah satunya karena skema teknologi yang diadopsi adalah skema 2FA Authentication, atau Two Factor Authentication. Istilah terakhir ini merupakan skema verifikasi dua langkah yang menjadi fitur opsional keamanan, dan berfungsi lebih mengamankan sebuah skema transaksi.
BNI juga akan mengadopsi tambahan keamanan dari sisi infrastruktur, baik dari sisi firewall, hingga sisi aplikasi yang di-protect dengan security encryption. “Sehingga, aplikasi yang kita punya tidak akan pernah mungkin di-hack,” ujarnya.
Jika benar terjadi serangan siber, maka dua data center yang dimiliki BNI akan memungkinkan proses recovery data dilakuan secara cepat, karena pencadangan data dilakukan di dua data center, plus satu server berbasis cloud.
Nah untuk faktor keamanan ini, BNI telah membelanjakan dana investasi sebesar Rp 70 miliar, dan akan menjadi lebih dari dua kali lipat pada tahun depan atau sekitar Rp 180 miliar. “Dengan bertambahnya capex, akan digunakan di sisi security agar bisa lebih ditingkatkan,” ujarnya.
Namun demikian dalam kesempatan yang sama ia mengingatkan, kecanggihan pengamanan infrastruktur digital banking sebuah bank tentu tak akan ada artinya tanpa tindakan kehati-hatian dari user atau nasabah. Ia berharap nasabah yang telah menikmati layanan super apps, bisa lebih waspada pada aksi scam atau penipuan yang kini marak terjadi di ranah digital.
