Citi: Butuh US$125 Triliun untuk Skenario Net Zero Emission di 2050
JAKARTA, Investortrust.id - Untuk mencapai skenario Net-Zero emission pada tahun 2050, diperlukan dana sekitar US$125 triliun dalam 30 tahun ke depan. Aliran pendanaan global juga tercatat meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2022 menjadi US$1,4 triliun, namun diperkirakan masih akan ada kesenjangan pendanaan iklim tahunan antara tahun 2030 dan 2050 hampir 7 kali lipat dari aliran dana tahun 2022.
Hal ini terungkap dalam laporan bertajuk “Unlocking Climate and Development Finance” yang dirilis Citi Global Perspectives & Solutions (Citi GPS), Senin (18/12/2023).
Laporan tersebut memaparkan, investasi atau pendanaan dalam transisi energi saat ini pada pasar negara-negara maju dilakukan melalui pembiayaan modal swasta, sedangkan di pasar negara berkembang melalui sektor publik dan organisasi supranasional.
Berikutnya dalam beberapa dekade mendatang, sebagian besar pendanaan iklim akan disalurkan di negara-negara berkembang untuk mencapai tujuan iklim global yang sudah ditetapkan.
Pada tahun 2022, kawasan Asia Timur dan Pasifik tercatat menerima 47% dari keseluruhan aliran pendanaan iklim, diikuti Eropa Barat yang menerima 24%, sementara Afrika Sub- Sahara, Timur Tengah serta Afrika Utara wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim dilaporkan hanya menerima 2% dan 1% dari keseluruhan aliran pendanaan.
Di Indonesia, pada November 2022 saat konferensi G20, skema pembiayaan Just Energy Transition Partnership (JETP) antara International Partners Group (IPG) dan Indonesia diluncurkan untuk mengumpulkan US$20 miliar pendanaan publik dan swasta guna mendorong pencapaian target iklim dan energi negara Asia.
“Sebesar US$10 miliar dalam pendanaan swasta akan dihimpun oleh GFANZ yang dipimpin bersama oleh Citi dan 6 bank lainnya, sementara US$10 miliar lainnya dalam dana publik akan dihimpun oleh anggota IPG yang dipimpin oleh AS dan Jepang,” tulis laporan tersebut.
Oleh karena itu, pejabat pemerintah harus bekerja sama dengan bank-bank pembangunan multilateral (MDB), lembaga keuangan pembangunan (DFI), serta yang tak kalah pentingnya dengan sektor swasta, untuk mempersiapkan studi kelayakan yang komprehensif untuk mendukung agenda perubahan iklim.
“Perusahaan swasta dan lembaga keuangan juga berperan penting kemampuan mereka untuk memahami risiko, pasar, dan peluang besar di masa depan sangatlah penting,” terang laporan tersebut.
Chief Executive Officer Citi Indonesia, Batara Sianturi membeberkan, di Citi Indonesia pihaknya terus menggunakan keahlian guna mendukung klien dalam mengatasi tantangan global dan berkontribusi pada upaya transisi energi.
“Kami berharap laporan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai bagaimana mencapai investasi yang diperlukan untuk mengatasi tantangan terbesar yang dihadapi oleh ekonomi, masyarakat, dan lingkungan global, yang semuanya tertuang dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB,” ujar Batara.
Untuk diketahui, di Indonesia sendiri, Citi telah memimpin beberapa inisiatif penting terkait lingkungan hidup dan keberlanjutan, seperti penerbitan obligasi hijau (green bond) perdana untuk PT Pertamina Energy Geothermal Energy Tbk (PGE) senilai US$ 400 juta, melakukan penandatanganan kesepakatan Pembiayaan Rantai Pasok Berkelanjutan atau Sustainable Supply Chain Finance (SSCF) dengan Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) untuk mendukung agenda keberlanjutan kedua Perusahaan, serta banyak transaksi Pembiayaan Berkelanjutan lainnya untuk mendukung komitmen global Citi senilai US$1 triliun untuk keuangan berkelanjutan pada tahun 2030. (CR-2)

