Antisipasi Gejolak Pasar, MSIG Life (LIFE) Utamakan SBN dan Perluas Diversifikasi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) memperkuat strategi investasi di tengah gejolak pasar saham domestik akibat usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perubahan status pasar Indonesia menjadi standalone market.
Presiden Direktur MSIG Life Wianto Chen mengungkapkan, pengelolaan dana nasabah yang menjadi kewajiban pihaknya dilakukan dengan mengacu pada prinsip asset liability management (ALM) yang prudent.
“(Investasi) ditempatkan ke aset-aset yang stabil terutama dengan SBN (surat berharga negara) dan surat utang pemerintah atau government bonds sesuai dengan durasi yang kita jaga, asset duration matching-nya,” ujarnya, dalam Public Expose MSIG Life 2026, di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga
MSIG Life (LIFE) Beberkan 4 Faktor Pengerek Laba Naik 69% di Semester I 2026
Sementara itu, untuk pengelolaan dana perusahaan, MSIG Life turut mempertimbangkan kebutuhan likuiditas dan perkembangan kondisi pasar. Ia menyatakan, perusahaan telah meningkatkan posisi kas serta melakukan diversifikasi investasi.
”Juga mendiversifikasi termasuk pertumbangan untuk offshore, karena ini ada pertimbangan pertumbuhan ekuitas luar negeri yang kuat dan juga dari sisi mata uang,” kata Wianto.
Baca Juga
MSIG Life (LIFE) Ungkap Dampak Gejolak IHSG Terhadap Kinerja Unit Link
Di lain sisi, Direktur MSIG Life Eiji Takahashi menyatakan, porsi investasi perusahaan pada saham Indonesia relatif kecil. Meski begitu, gejolak pasar domestik tetap memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan.
“Alokasi untuk saham Indonesia terhitung kecil. Dan di tengah ketidakpastian yang terjadi saat ini, terutama dari MSCI, memang ada impact-nya atau terdampak ke dalam laba semester I 2026, dan ini sedang dalam pengawasan yang ketat oleh kami,” ucapnya.
Menurut Takahashi, investasi MSIG Life tidak hanya terpusat di pasar domestik, tapi juga mencakup pasar global yang dinilai relatif stabil dalam kondisi saat ini. Diversifikasi tersebut membantu perusahaan menyeimbangkan potensi kerugian dari investasi domestik dengan keuntungan dari investasi di luar negeri.
“Meskipun ada kerugian dari sisi domestik, tetap ada sisi profit dari global, sehingga dapat menyeimbangkan loss maupun profit perusahaan,” ujarnya.
