AMRO Sebut Platform Keuangan Digital Bisa Pangkas Hambatan Investasi di ASEAN+3
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Platform keuangan digital dinilai berpotensi mempercepat integrasi pasar keuangan di kawasan ASEAN+3 dengan memangkas hambatan infrastruktur dan mempermudah transaksi lintas negara. Namun, perbedaan regulasi, keterbatasan likuiditas, serta persepsi investor masih menjadi tantangan yang perlu diatasi.
Deputy Group Head and Senior Financial Specialist ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) Singapore Prashant Pande mengungkapkan, platform keuangan digital dapat menjadi jalur alternatif untuk memperkuat integrasi pasar keuangan regional yang selama ini berjalan secara bertahap.
“Ini (platform keuangan digital) bukanlah sesuatu yang akan menggantikan apa yang sedang terjadi pada integrasi pasar keuangan. Meski demikian, ini dapat memberi anda jalur alternatif,” ujarnya, dalam The 4th OJK International Research Forum 2026, secara daring Senin (26/10/2026).
Baca Juga
Hadir di FEKDI x IFSE 2026, Telkom Solution Dukung Ekosistem Ekonomi dan Keuangan Digital
Prashant menjelaskan, kawasan ASEAN+3 yang mencakup ASEAN, China, Jepang, dan Korea Selatan menyumbang sekitar 30% terhadap produk domestik bruto (PDB) global. Namun, kontribusi kawasan terhadap investasi portofolio global masih di bawah 10%, menunjukkan peluang pendalaman pasar keuangan yang belum optimal.
Menurutnya, platform digital berbasis aset yang ditokenisasi dan buku bersama (shared ledger) dapat meningkatkan interoperabilitas infrastruktur pasar serta mempermudah transaksi lintas negara. Teknologi ini juga berpotensi membantu mengarahkan tabungan regional ke investasi di kawasan sendiri.
Meski begitu, digitalisasi tidak cukup untuk mengatasi perbedaan hukum dan regulasi antarnegara. Keterbatasan likuiditas mata uang serta persepsi investor terhadap pasar negara berkembang juga masih menghambat integrasi.
Baca Juga
OJK Arahkan Inovasi Keuangan Digital yang Melindungi dan Bermanfaat bagi Masyarakat
Oleh karena itu, lanjut Plashant, AMRO mendorong pendekatan bertahap dengan menggabungkan penguatan sistem keuangan konvensional dan eksperimen platform digital. Obligasi hijau (green bonds) dan efek keuangan syariah dapat menjadi titik awal penerapan teknologi tersebut sebelum diperluas ke kelas aset lainnya.
“Satu area yang mungkin belum cukup kami bahas, dan itu adalah sesuatu yang ingin kami eksplorasi ke depan, adalah pertimbangan stabilitas keuangan,” katanya.
