Rupiah Diperkirakan Anjlok, Tekanan Internal dan Eksternal Mengintai
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (19/10/2026). Rupiah melemah 0,15% ke posisi Rp 18.054 per dolar AS.
Sejumlah mata uang di kawasan juga terpantau bergerak fluktuatif. Dolar Singapura melemah 0,01%, baht Tailan melemah 0,16%, dan peso Filipina melemah 0,21%.
Sementara itu, sejumlah mata uang di kawasan ini bergerak menguat terhadap dolar AS. Yuan China dan yen Jepang menguat 0,06%, rupee India menguat 0,1%, dan ringgit Malaysia menguat 0,02%.
Baca Juga
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah diperkirakan masih dalam tekanan internal maupun eksternal.
"Walau sanksi OJK serta hearing BEI mungkin dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar," ujar Lukman, Senin (19/10/2026).
Akan tetapi,eskalasi di Timur Tengah dan perang Ukraina-Russia kembali melonjakan harga minyak dunia kembali menekan rupiah.
Harga minyak Brent telah menembus US$ 107,89 per barel. Sementara itu, versi WTI harga minyak mentah mencapai US$ 100,58 per barel.
Baca Juga
Berdasarkan pemberitaan Investortrust, Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/10/2026), dibuka anjlok 253,29 poin (4,87%) ke bawah 5.000, tepatnya 4,931. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan mayoritas pasar saham Asia.
Penurunan juga dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham, seperti material dasar, industri, dan infrastruktur lebih dari 5%. Penurunan juga melanda saham sektor keuangan, konsumer primer, konsumer non primer, dan teknologi.
Hampir seluruh saham big cap berjatuhan, seperti BBCA, BMRI, BBNI, BYAN, BREN, TPIA, BRPT. Kejatuhan juga melanda saham saham-saham big cap lainnya.
