Rupiah Melemah di Awal Pekan, Diproyeksikan Penguatan Terbatas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (5/10/2026). Rupiah melemah 0,18% ke poaisi Rp 17.914 per dolar AS.
Mayoritas nilai tukar mata uang di sejumlah negara kawasan Asia, terpantau bergerak melemah. Pelemahan tertinggi terpantau terjadi pada rupee India sebesar 0,5%, won Korea Selatan sebesar 0,34%, dan dolar Singapura sebesar 0,18%. Sementara itu, pelemahan lain terpantau terjadi pada ringgit Malaysia sebesar 0,02%, baht Tailan sebesar 0,08%, dan peso Filipina sebesar 0,1%.
Dua mata uang yang menguat di kawasan ini yaitu yen Jepang dan yuan China. Yen menguat 0,03% dan yuan menguat 0,02%.
Baca Juga
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak mentah dunia oleh rencana perlepasan cadangan oleh negara G7.
"Namun penguatan diperkirakan terbatas oleh imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi," kata Lukman, Senin (5/10/2026).
Menurut Lukman, investor masih terus melepas obligasi AS dan Eropa. Ini terjadi karena kekhawatiran harga energi yang masih akan terus tinggi dan inflasi ke depannya.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat bahwa imbal hasil UST tenor 10 tahun naik 3,0 bps menjadi 5,27% atau naik 110,4 bps ytd. Sementara itu, imbal hasil UST tenor 2 tahun naik 5,0 bps menjadi 4,83% atau naik sebesar 136,0 bps ytd).
Imbal hasil awalnya turun setelah rilis laporan payroll yang lebih lemah, sebelum kembali meningkat seiring aksi jual obligasi global berlanjut, sehingga imbal hasil US Treasury 10 thaun tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade.
Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY terdepresiasi 0,16% menjadi 101,93, tetapi masih terapresiasi 3,67% secara ytd. Ini terjadi setelah nonfarm payroll AS September 2026 hanya meningkat 29.000, jauh di bawah ekspektasi 90.000.
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, dengan pasar memperkirakan sekitar 80% probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada rapat FOMC 28 Oktober 2026, menyusul laporan pasar tenaga kerja yang lebih lemah.
Akan tetapi, pasar masih memberikan probabilitas tinggi terhadap kenaikan suku bunga berikutnya pada Desember karena inflasi masih berada di atas target, sehingga bias pengetatan The Fed secara keseluruhan tetap bertahan.
Harga minyak mentah Brent relatif stabil di US$ 102,3 per barel pada Jumat, namun naik ke sekitar USD103,1 per barel pagi ini, setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan rudal dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan Khurais.
Perkembangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak di kawasan. Sementara itu, OPEC+ mempertahankan target produksi November, sedangkan produksi negara-negara Teluk masih berada di bawah kuota di tengah berlanjutnya gangguan ekspor.
