RPIM Diperluas, BWS Berpeluang Perkuat Pembiayaan Berbasis Ekosistem
JAKARTA, investortrust.id – Perluasan kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) yang mulai berlaku pada 1 Oktober 2026 membuka ruang lebih luas bagi industri perbankan untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor produktif. Kebijakan Bank Indonesia (BI) tersebut juga berpotensi mendorong strategi pembiayaan berbasis ekosistem, termasuk bagi PT Bank Woori Saudara Tbk (SDRA) atau BWS.
RPIM merupakan kebijakan BI yang mendorong perbankan meningkatkan porsi pembiayaan inklusif. Bank menetapkan target RPIM dalam Rencana Bisnis Bank berdasarkan penilaian mandiri dengan mempertimbangkan keahlian dan model bisnis, serta tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.
Dalam kebijakan terbaru, BI memperluas cakupan RPIM, salah satunya dengan memasukkan pembiayaan kepada pemasok, distributor, dan mitra dari suatu badan usaha. BI juga memperluas kerja sama kredit UMKM antarbank melalui skema channeling dan executing, serta memperkuat mekanisme transfer RPIM antarbank.
Baca Juga
Perdagangan RI-Korea Tembus US$ 10,3 Miliar, BWS (SDRA) Diuntungkan
Perubahan tersebut membuat pendekatan pembiayaan berbasis ekosistem semakin relevan. Bank tidak hanya dapat membiayai perusahaan secara individual, tetapi juga memiliki ruang lebih besar untuk menjangkau pelaku usaha di sepanjang rantai bisnis, mulai dari pemasok, distributor hingga mitra usaha.
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga mengatakan, perluasan RPIM merupakan langkah positif karena membuat kebijakan pembiayaan inklusif lebih dekat dengan praktik bisnis dan manajemen risiko perbankan. Tantangan dalam memperluas kredit kepada UMKM selama ini bukan semata ketersediaan likuiditas, tetapi juga bagaimana bank mendapatkan pipeline debitur yang berkualitas dan memiliki profil risiko yang dapat diukur.
“Perluasan RPIM membuat pendekatannya menjadi lebih market-based. Bank tidak harus mengejar pembiayaan inklusif secara terpisah, tetapi dapat masuk melalui ekosistem yang sudah memiliki transaksi, pemasok, distributor, dan off-taker yang jelas,” ujar Aditya.
Baca Juga
CAR Bank Woori Saudara (BWS) Tembus 32,03% di Juni 2026, Lampaui Rata-Rata Industri
Menurut dia, pendekatan tersebut penting karena ekspansi kredit dapat dilakukan dengan visibilitas terhadap arus transaksi dan risiko yang lebih baik. Efektivitas kebijakan tersebut pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan masing-masing bank mengintegrasikan RPIM dengan strategi bisnisnya. Dengan demikian, RPIM tidak semata dipandang sebagai rasio yang harus dipenuhi, tetapi dapat menjadi instrumen untuk membangun sumber pertumbuhan kredit baru.
“RPIM seharusnya tidak berhenti sebagai exercise untuk memenuhi rasio. Bank yang mampu mengintegrasikannya dengan strategi bisnis justru dapat menjadikan kebijakan ini sebagai sumber pertumbuhan kredit baru, terutama melalui supply-chain financing dan pembiayaan UMKM di dalam ekosistem nasabah korporasi,” lanjutnya.
Peluang BWS
Bagi bank dengan skala kecil menengah KBMI II seperti Bank Woori Saudara (BWS), perluasan RPIM tidak hanya dapat menjadi bagian dari pemenuhan kebijakan, tetapi juga strategi pertumbuhan kredit. Basis nasabah korporasi dapat menjadi pintu masuk bagi BWS untuk memperluas pembiayaan kepada pemasok, distributor, maupun mitra usaha yang berada dalam satu rantai bisnis. Model tersebut juga membuka peluang untuk memperluas akses pembiayaan kepada UMKM.
Baca Juga
Kolaborasi dengan Grab Bakal Dongkrak Prospek Bisnis Bank Woori Saudara (BWS)
Keberadaan perusahaan utama atau anchor dalam suatu ekosistem dapat memberikan konteks tambahan bagi bank untuk memahami pola transaksi, hubungan komersial, hingga kebutuhan modal kerja pelaku usaha di dalamnya. BWS memiliki modal awal untuk menangkap peluang tersebut. Hingga Juni 2026, penyaluran kredit BWS mencapai Rp40,34 triliun.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp20,8 triliun merupakan kredit modal kerja dan Rp1,8 triliun kredit investasi. Data tersebut menunjukkan pembiayaan produktif telah menjadi bagian penting dari portofolio kredit perseroan. Dari sisi permodalan, BWS juga memiliki bantalan untuk mendukung pengembangan bisnis. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 32,03% per Juni 2026, berada di atas CAR industri sebesar 23,70% pada periode yang sama.
