Dari Personal Banker hingga CEO BMoney, Intip Perjalanan Angganata Sebastian
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Sebelum memimpin perusahaan wealth management dengan dana kelolaan triliunan rupiah, Angganata Sebastian mengawali kariernya dari industri perbankan. Pengalaman melayani nasabah segmen premium menjadi salah satu fondasi perjalanan profesionalnya di industri keuangan.
Karier Angganata dimulai pada 2004 ketika ia bergabung dengan Citibank Indonesia sebagai Personal Banker. Dalam posisi tersebut, ia banyak berhadapan dengan nasabah kelas atas sekaligus memberikan layanan dan saran terkait pengelolaan keuangan serta investasi.
Pengalaman lebih dari satu dekade di industri perbankan kemudian membawanya ke PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. Di perusahaan manajemen investasi tersebut, Angganata semakin mendalami pengelolaan dana dan portofolio investasi.
Pengalaman di dua sisi industri keuangan itu kemudian menjadi bekal ketika Angganata dipercaya membangun BMoney pada periode 2019-2020.
Membangun BMoney
Pada tahap awal, BMoney merupakan perusahaan patungan antara PT Bukalapak.com Tbk dan Ashmore dengan komposisi kepemilikan masing-masing 80% dan 20%. Pada awal 2025, kepemilikan BMoney kemudian sepenuhnya berada di bawah Bukalapak.
Baca Juga
BMoney mulai beroperasi secara efektif pada akhir 2021, di tengah situasi pandemi Covid-19. Saat itu, perusahaan masih mengelola dana sekitar Rp 130 miliar.
Angganata mengatakan membangun bisnis investasi digital dari awal bukan perkara mudah. Selain keterbatasan anggaran pemasaran, perusahaan juga harus menghadapi persaingan merek dan kebutuhan untuk membangun tim.
"Kami mulai beroperasi secara efektif di tengah masa pandemi Covid-19 akhir 2021 dengan modal awal investasi dan mengelola dana sekitar Rp130 miliar," kata Angganata dalam Podcast Konvergensi bersama Investortrust, belum lama ini.
"Tantangannya luar biasa, mulai dari keterbatasan anggaran pemasaran, persaingan merek, hingga mencari tim yang tepat," lanjutnya.
Seiring waktu, BMoney berkembang dari platform pemasaran reksa dana menjadi platform wealth management. Perusahaan mengantongi izin Agen Penjual Reksa Dana (APERD) dari OJK dan Mitra Perantara Pedagang Efek (MPPE) Level 2 melalui kerja sama dengan CGS Sekuritas.
Dari Investasi ke Kebebasan Finansial
Bagi Angganata, perjalanan BMoney tidak semata-mata berkaitan dengan pertumbuhan bisnis. Nama BMoney yang berasal dari gagasan "Beyond Money" juga mencerminkan pandangannya mengenai tujuan pengelolaan keuangan.
Menurut dia, investasi seharusnya tidak berhenti pada upaya mengejar keuntungan. Masyarakat perlu memiliki pemahaman mengenai pengelolaan arus kas, utang, dana darurat, hingga pemilihan instrumen investasi.
Konsep tersebut berkaitan dengan gagasan kebebasan finansial yang menurutnya bukan berarti seseorang harus berhenti bekerja.
"Financial freedom itu bukan soal berhenti bekerja, tetapi kebebasan untuk memilih dan menentukan arah hidup tanpa dibayangi kecemasan finansial," ujar Angganata.
Menurut dia, kebebasan finansial membutuhkan fondasi keuangan yang sehat.
Baca Juga
BMoney Bidik AUM Rp 6,5 Triliun, Garap Segmen Affluent dan HNWI
"Untuk mencapai itu, masyarakat butuh fondasi: arus kas sehat, utang terkendali, dana darurat, dan investasi yang prudent," katanya.
Kini, BMoney telah mencatatkan profitabilitas secara penuh atau full year profit. Dana kelolaan perusahaan mendekati Rp5 triliun dengan jumlah nasabah hampir 1 juta orang.
Dari pengalaman panjang di industri perbankan dan manajemen investasi hingga membangun perusahaan teknologi finansial, Angganata kini membawa BMoney memasuki fase berikutnya sebagai platform wealth management yang menyasar investor dari berbagai lapisan, mulai dari investor ritel hingga segmen HNWI.
