BMoney Bidik AUM Rp 6,5 Triliun, Garap Segmen Affluent dan HNWI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Buka Investasi Bersama (BMoney) menargetkan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) mencapai Rp6 triliun hingga Rp 6,5 triliun pada tahun depan. Perusahaan melihat segmen nasabah affluent dan High Net Worth Individual (HNWI) sebagai salah satu sumber pertumbuhan bisnis.
CEO BMoney Angganata Sebastian mengatakan, dana kelolaan perseroan saat ini berada di kisaran Rp 4,8 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 4,2 triliun berasal dari produk reksa dana, sedangkan sisanya berasal dari obligasi pemerintah dan korporasi serta saham.
"Di awal tahun kami memulai dari AUM sekitar Rp3,8 triliun. Pada Juni lalu, dana kelolaan kami sempat menyentuh rekor tertinggi sebesar Rp6 triliun sebelum ada penebusan (redemption) rutin dari nasabah institusi," ujar Angganata dalam Podcast Konvergensi bersama Investortrust, belum lama ini.
Menurut dia, BMoney menargetkan AUM berada di kisaran Rp 4,8 triliun hingga Rp 5 triliun sampai akhir tahun ini. Adapun pertumbuhan lebih agresif diharapkan terjadi pada tahun berikutnya dengan target AUM Rp 6 triliun-Rp 6,5 triliun.
"Kami menargetkan dapat mempertahankan AUM di kisaran Rp 4,8 triliun hingga Rp 5 triliun, dan tumbuh agresif di level Rp 6 hingga Rp 6,5 triliun tahun depan," katanya.
Bidik Nasabah Affluent
Angganata mengatakan strategi pertumbuhan BMoney tidak hanya mengandalkan nasabah ritel. Perusahaan mulai memperbesar perhatian terhadap segmen affluent dan HNWI yang dinilai memiliki kebutuhan pengelolaan investasi berbeda.
Saat ini BMoney telah memiliki hampir 1 juta nasabah terdaftar. Sekitar 70-80% di antaranya merupakan investor Gen-Z dengan portofolio di bawah Rp 250 juta.
Sementara itu, melalui layanan BMoney Privilege, perseroan melayani sekitar 1.500 nasabah HNWI dengan portofolio di atas Rp 1 miliar.
Menurut Angganata, karakteristik nasabah ritel dan affluent berbeda. Nasabah ritel cenderung lebih dinamis dalam mengambil keputusan investasi, sementara nasabah affluent membutuhkan layanan yang lebih personal.
"Nasabah ritel sangat dinamis dan dipengaruhi tren. Sementara nasabah affluent membutuhkan pendekatan yang berbeda, termasuk dukungan tenaga pemasar profesional," ujarnya.
Karena itu, BMoney mengombinasikan layanan digital dengan dukungan penasihat keuangan untuk memberikan layanan kepada nasabah dengan kebutuhan investasi yang lebih kompleks.
"Jadi kombinasi platform digital intuitif dan penasihat keuangan inilah yang menjadi keunggulan komparatif BMoney dibanding platform lain," kata Angganata.
Selain memperluas basis nasabah, BMoney juga menerapkan strategi kurasi dalam menawarkan produk investasi.
Angganata mengatakan perseroan tidak berupaya menyediakan seluruh produk reksa dana yang tersedia di pasar. Saat ini BMoney bekerja sama dengan sekitar 18 manajer investasi yang telah melalui proses seleksi.
"Kami melakukan kurasi berdasarkan kredibilitas MI, rekam jejak AUM, dan keberlanjutan performa," ujarnya.
Menurut dia, strategi tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas produk sekaligus memberikan pilihan investasi yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.
"Kami memilih menjadi APERD yang akurat dan akuntabel. Lebih baik pilihan produk terukur namun memiliki fundamental yang jelas dan legalitas yang terjamin di bawah OJK," katanya.
BMoney sebelumnya berkembang sebagai platform investasi ritel digital setelah memperoleh izin sebagai Agen Penjual Reksa Dana (APERD) dan Mitra Perantara Pedagang Efek (MPPE) Level 2.
Dalam jangka panjang, Angganata menargetkan AUM BMoney dapat mencapai Rp 10 triliun pada 2028. Target tersebut sejalan dengan upaya perusahaan memperluas layanan pengelolaan kekayaan dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk investasi.
