Survei Citi: 72% Perusahaan Global Prioritaskan Pelepasan Likuiditas untuk Perkuat Ketahanan Bisnis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Citi Institute dan bisnis Services Citi meluncurkan laporan terbaru berjudul ‘Transformasi Lanskap Global: Pergeseran dalam Perdagangan Global dan Foreign Direct Investment (FDI)’. Laporan ini meneliti bagaimana prioritas perusahaan terus berkembang seiring semakin matangnya rantai pasok global.
Temuan utama dalam laporan ini menyoroti bahwa perusahaan semakin memperhatikan modal kerja, likuiditas, dan visibilitas kas di tengah jalur perdagangan dan hubungan pengadaan terus mengalami perubahan. Berdasarkan data dalam laporan, konflik di Timur Tengah serta tingginya harga minyak dan produk olahan minyak telah membuat Indeks Tekanan Rantai Pasok Global (Global Supply Chain Pressure Index/GSCPI) Citi tetap berada pada level tertinggi yang bertahan sejak periode tahun 2021-2022.
Dalam kondisi tersebut, para bendahara perusahaan semakin fokus untuk mengoptimalkan kas yang tersimpan dalam rantai pasok mereka, sehingga menciptakan keunggulan likuiditas yang secara aktif memperkuat ketahanan perusahaan. Sebanyak 72% perusahaan global menempatkan upaya melepaskan likuiditas yang terperangkap sebagai prioritas strategis utama mereka dalam 12 bulan ke depan, meningkat dari 66% pada awal tahun 2026.
Selain itu, 64% responden menyatakan bahwa identifikasi likuiditas yang terperangkap dalam rantai pasok kini menjadi faktor utama dalam penyusunan strategi modal kerja mereka, meningkat dari 55% pada awal tahun 2026.
Global Head of Trade and Working Capital Solutions Citi Services Adoniro Cestari mengatakan, selama beberapa tahun terakhir, percakapan didominasi oleh topik ketahanan melalui diversifikasi.
"Perusahaan mendiversifikasi basis pemasok dan merancang ulang strategi pengadaan mereka untuk memperkuat operasional bisnis mereka. Kini, tim bendahara mulai fokus pada pertanyaan, di mana kas kami tersimpan, dan seberapa cepat kas tersebut dapat dimanfaatkan,” ujar Cestari dalam keterangan yang diterima, Jumat (25/9/2026).
Baca Juga
Begini Tanggapan Citi Indonesia Soal Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI
Perdagangan Global Terus Bertumbuh
Data arus pembayaran dan penerimaan dari proses bisnis Citi menunjukkan bahwa perdagangan global terus tumbuh meskipun terjadi disrupsi. Secara keseluruhan, arus pembayaran meningkat 40% secara tahunan pada semester pertama tahun 2026, dengan pertumbuhan tercatat di seluruh wilayah utama yang dipantau Citi.
Pertumbuhan pembayaran di sektor teknologi memimpin peningkatan ini, seiring pembangunan infrastruktur AI global yang terus membentuk ulang arus modal. Secara global, arus pembayaran sektor ini meningkat sebesar 50% secara tahunan, dengan pertumbuhan di Asia dan Amerika Latin masing-masing mencapai 60% dan 58%.
Arus domestik di Amerika Serikat meningkat 37%, sementara arus lintas negara dari Taiwan ke Singapura tumbuh 90% dan dari Amerika Serikat ke Taiwan meningkat sebesar 36%. Arus domestik dan lintas negara tersebut menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor teknologi secara keseluruhan.
Jalur perdagangan turut berubah mengikuti pergeseran arus pembayaran tersebut. Ekspor kendaraan dan suku cadang dari Cina menggambarkan tren ini dengan jelas. Amerika Utara yang sebelumnya menyerap sekitar sepertiga dari pengiriman tersebut kini hanya menyumbang sekitar 13% pada pertengahan tahun 2026.
Baca Juga
Begini Tanggapan Citi Indonesia Soal Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI
Sebaliknya, Afrika muncul sebagai salah satu negara tujuan ekspor dengan pertumbuhan tercepat, hampir menggandakan pangsanya dari sekitar 8% pada tahun 2022 menjadi lebih dari 15% saat ini. Amerika Latin juga menjadi wilayah dengan peningkatan terbesar dalam kategori tersebut.
Pergeseran serupa juga terjadi di sektor pertanian. Brasil dan Argentina membantu Amerika Latin memperkuat posisinya sebagai pemasok produk pertanian terbesar bagi Cina, dengan pangsa pasokan yang dalam beberapa kuartal terakhir berkisar antara sepertiga hingga hampir setengah dari total impor Cina.
Di sisi lain, tekanan biaya terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pandangan perusahaan terhadap pengelolaan modal kerja. Secara global, 68% perusahaan menyatakan bahwa kenaikan biaya input merupakan faktor utama yang mempengaruhi keputusan terkait modal kerja, sementara 59% menyebut tingkat suku bunga yang masih tinggi turut memengaruhi pendekatan mereka dalam mengelola modal kerja.
Digabung bersama, faktor-faktor tersebut menyoroti bahwa tingginya biaya saat ini merupakan tantangan yang bersifat struktural, bukan sekadar siklus ekonomi. Paparan terhadap tarif menunjukkan gambaran yang tidak merata.
Tarif menjadi pendorong utama relokasi rantai pasok bagi perusahaan di Asia Pasifik (46%) dan Amerika Latin (44%), namun hanya 2% responden di Amerika Utara yang menyebutkannya, menunjukkan bagaimana dampak lingkungan perdagangan saat ini dirasakan secara berbeda di setiap wilayah.
Minat terhadap penggunaan perangkat digital untuk mendukung kinerja modal kerja juga terus meningkat. Hampir setengah dari perusahaan menyatakan sedang mengevaluasi solusi DLT (Distributed Ledger Technology) dan blockchain, sementara penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam operasi perdagangan naik hampir tiga kali lipat, dari 16% pada tahun 2024 menjadi 45% saat ini.
“Ada kecenderungan untuk melihat setiap guncangan sebagai bukti bahwa globalisasi sedang mengalami kemunduran,” kata Cestari.
Lebih jauh, laporan ini menunjukkan cerita yang lebih bernuansa. Arus perdagangan, investasi, dan pembayaran masih terus tumbuh, hanya saja melalui pasar dan koridor yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu.
"Perusahaan beradaptasi terhadap realitas tersebut sambil mencari cara untuk beroperasi lebih efisien di tengah ketidakpastian yang berkelanjutan dan memanfaatkan likuiditas mereka dengan lebih baik," jelasnya.
Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa tahap berikutnya dalam pengambilan keputusan terkait rantai pasok akan ditentukan tidak hanya oleh prioritas operasional, tetapi juga oleh prioritas kebendaharaan, seiring perusahaan berupaya memperkuat arus kas dan meningkatkan ketahanan bisnis mereka.
Laporan ini menggabungkan data jaringan pembayaran Citi yang mencakup puluhan ribu klien korporasi di seluruh wilayah utama dunia, survei pertengahan tahun Citi terhadap lebih dari 700 perusahaan besar dan 150 pemasok, serta analisis ekonomi dari Citi Research.
