Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp 17.519 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 0,05% ke Rp 17.519 per dolar AS.
Sementara itu, nilai tukar mata uang sejumlah negara di Asia bergerak menguat. Yen Jepang sempat melanjutkan penguatan ke 0,03%, dolar Hong Kong menguat 0,02%, won Korea Selatan menguat 0,1%, dolar Singapura menguat 0,02%, dan baht Tailan menguat 0,08%, serta ringgit Malaysia menguat 0,02%.
Sementara itu, peso Filipina dan rupee India terpantau melemah. Peso melemah 0,01% dan ringgit melemah 0,3%.
Baca Juga
Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Penguatan Yen Jepang Masih Berlanjut
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan indeks dolar AS atau DXY menguat tipis 0,03% menjadi 98,82. DXY tersebut tetap berada di dekat level terendah dalam dua minggu karena apresiasi yen dan euro membatasi penguatan dolar AS.
Yen Jepang melanjutkan penguatannya dengan USD/JPY turun menjadi 153,6, yang mencerminkan apresiasi Yen sebesar 0,27% day to day, didukung ekspektasi pengetatan kebijakan Bank of Japan (BOJ) yang lebih cepat, arus repatriasi, serta berlanjutnya unwinding carry trade yang didanai yen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap tinggi, dengan pasar memperkirakan probabilitas sekitar 60% untuk kenaikan 25 bps pada pertemuan FOMC 15–16 September. Laporan ketenagakerjaan Agustus yang lebih kuat dari perkiraan serta harga minyak Brent di atas US$ 100 per barel meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan tinggi. Namun, survei Reuters menunjukkan sekitar 70% ekonom masih memperkirakan The Fed mempertahankan Federal Funds Rate pada 3,50%–3,75%, sehingga data PPI malam ini dan CPI pada Jumat menjadi sangat penting bagi keputusan September.
Baca Juga
Rupiah Kokoh Hadapi Dolar AS, Yen Jepang Mencatat Penguatan Tajam
Harga minyak mentah Brent naik 3,36% menjadi USD101,2 per barel, menembus level US$ 100 seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memperkuat kekhawatiran terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk.
Iran mengatakan telah menyerang kapal-kapal di dekat Selat Hormuz setelah serangan AS terhadap kapal tanker Iran, sementara serangan rudal dan drone Houthi terhadap Arab Saudi berlanjut untuk hari kedua berturut-turut. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat normal, sehingga mempertahankan premi risiko geopolitik yang signifikan pada harga minyak dan menambah risiko kenaikan inflasi global.
