BI Proyeksikan Nilai Tukar Dolar Melemah di Semester II-2024
JAKARTA, Investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) akan melemah pada semester II-2024. Proyeksi ini muncul karena prakiraan arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed yang akan melonggarkan kebijakan suku bunganya.
“Untuk beberapa saat dolar menguat saat ini, tapi kita akan melihat bahwa dolar akan melemah pada semester II,” kata Perry di ajang Mandiri Investment Forum 2024, Jakarta, Selasa (5/3/2024).
Perry mengatakan, penurunan Fed Fund Rate (FFR) pada periode itu dipengaruhi melemahnya tekanan inflasi di AS yang saat ini mulai melandai. Saat ini, FFR berada di kisaran 5,25%-5,5% dan akan mengalami penurunan sebesar 75 bps pada semester II-2024.
“Kita masih mencari timing pastinya tapi secara keseluruhan semester II,” kata dia.
Sebelumnya, Perry menyebut upaya menguatkan nilai tukar rupiah. Cara ini untuk mendukung kondisi inflasi Indonesia. Selain itu, rupiah yang menguat dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Itu sebabnya kenapa kita harus memastikan nilai tukar rupiah menguat untuk mendukung tingkat inflasi kita dan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar dia.
Baca Juga
Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Menguat, Cek Sentimen Pendorongnya
Selain nilai tukar, Perry mengatakan suku bunga yang terus bertahan di level 6% merupakan bagian dari upaya memastikan stabilitas ekonomi Indonesia. Dia mengatakan, suku bunga yang bertahan juga menjaga inflasi rendah di kisaran target. "Itu kenapa untuk beberapa saat akan mempertahankan policy rate di level 6%," kata dia.
Mengutip analis Mega Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya menjelaskan sejumlah isu yang dicermati pasar hari ini. Berdasarkan analisis Tim Riset InvestasiKu, para pelaku pasar menanti berbagai rilis data tenaga kerja AS dan komentar Gubernur The Fed Jerome Powell di pertengahan pekan.
Berdasarkan survei di CME, terjadi peningkatan probabilitas ke 58% bahwa bank sentral negara adidaya itu memangkas suku bunga pada Juni mendatang, dari sebelumnya hanya 57% pada akhir pekan lalu.
Besaran pemangkasan suku bunga acuan di negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu diperkirakan sebesar 25 bps untuk tahap awal, dari saat ini berkisar 5,25%-5,50%. Angka ini berbeda tipis dengan suku bunga acuan Bank Indonesia di level 6%.
Kondisi ini membuat rupiah bergerak menguat terhadap dolar AS pada Selasa pagi (5/3/2024). Tetapi, rupiah melemah terhadap Yuan, China.
Kurs rupiah terhadap greenback tercatat sebesar Rp 15.742,7 per dolar AS pada Selasa (5/3/2024) pukul 10.04 WIB. Tim Riset Investortrust.id, mencat
Sementara itu, nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,34% terhadap yuan Cina (off shore) pada pagi ini, menjadi Rp 2.183,70 per yuan. Sedangkan secara ytd melemah 0,70%.

