Pusat Data AI Makin Jumbo, Kerugian Asuransi Bisa Tembus US$ 100 Juta Sekali Insiden
JAKARTA, investortrust.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong pembangunan pusat data (data centre) dalam skala yang semakin besar. Kondisi ini sekaligus meningkatkan risiko asuransi, mulai dari kebakaran, gangguan listrik, kerusakan peralatan, bencana alam, hingga terhentinya operasional.
Melansir InsuranceAsia, Senin (24/8/2026), Allianz Commercial memperkirakan investasi tahunan di pusat data global akan meningkat dua kali lipat, dari US$ 500 miliar pada 2024 menjadi lebih dari US$ 1 triliun pada 2027.
Investasi tersebut mencakup pembangunan fasilitas, pembangkit dan jaringan listrik, sistem pendingin, jaringan komunikasi hingga manufaktur semikonduktor. Amerika Serikat (AS) dan China diperkirakan menyumbang sekitar 62% penambahan kapasitas pusat data global hingga 2030.
CEO Allianz Commercial Thomas Lillelund mengungkapkan, ekspansi AI telah mengubah pusat data dari aset properti menjadi infrastruktur vital. Karena itu, ketahanan listrik, rantai pasok, konstruksi, pemilihan lokasi dan perlindungan asuransi menjadi semakin penting.
Baca Juga
AI Disebut Berpotensi Dongkrak Efisiensi dan Profitabilitas Industri Asuransi
Risiko Iklim
Allianz mencatat sekitar 79% kapasitas pusat data global berada di wilayah dengan risiko bencana alam tinggi. Sebanyak 54% lainnya berada di wilayah yang menghadapi tekanan panas dan kekeringan kronis.
Besarnya nilai proyek juga meningkatkan potensi kerugian. Biaya pembangunan satu kompleks pusat data berbasis AI dapat mencapai US$ 20 miliar, belum termasuk perangkat komputasi bernilai tinggi yang dipasang didalamnya.
Kebakaran Jadi Risiko Terbesar
Berdasarkan analisis Allianz terhadap klaim pusat data, kebakaran menjadi penyebab utama kerugian berat, menyumbang lebih dari separuh total kerugian sekitar € 700 juta yang dianalisis.
Bencana alam menjadi penyebab terbesar kedua, disusul tindakan yang disengaja, termasuk kesehatan dan insiden siber, serta gangguan pasokan listrik. Sementara itu, kerusakan akibat air menjadi penyebab klaim yang sering terjadi.
Allianz mencatat sejumlah klaim terkait sistem pendingin, kebakaran akibat hot works, serta keterlambatan operasional setelah gangguan listrik menghasilkan kerugian hingga mencapai US$ 100 juta.
Baca Juga
3 Entitas Bisnis Allianz Indonesia Catat Premi Bruto Gabungan Rp 11,4 Triliun pada Semester I 2026
Global Head of Construction Claims Allianz commercial Christian Kolbe mengatakan, perusahaan asuransi perlu memperhatikan seluruh sistem kritis yang menopang pusat data, termasuk listrik, pendingin, baterai, serat optik, proses pengujian hingga rencana keberlangsungan bisnis.
Sementara itu, Regional Head of Short-tails Claims, Asia, Allianz Commercial Charlotte Field menekankan pentingnya kejelasan peralihan perlindungan dari polis construction all risk ke polis operasional.
Menurutnya, proses practical completion harus terdokumentasi dengan jelas agar tidak terjadi sengketa mengenai cakupan polis ketika tanggung jawab fasilitas berpindah dari pihak konstruksi kepada operator.

