AI Disebut Berpotensi Dongkrak Efisiensi dan Profitabilitas Industri Asuransi
JAKARTA, investortrtrust.id - Industri asuransi dinilai berisiko kehilangan potensi keuntungan terbesar dari pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) jika penerapan teknologi tersebut masih terbatas pada proyek percontohan yang berdiri sendiri.
Melansir InsuranceAsia, Senin (24/8/2026), data McKinsey & Company mencatat, biaya distribusi menjadi salah satu beban terbesar dalam industri asuransi, terutama pada bisnis asuransi jiwa. Biaya tersebut dapat mencapai US$ 0,80 dari setiap US$ 1 premi tahun pertama.
Dalam laporan Juli 2026, McKinsey menyebut gross written premium (GWP) atau premi bruto global tumbuh rata-rata 4,9% per tahun sejak 2005 hingga mencapai sekitar US$ 8,3 triliun pada 2025. Namun, laba sebelum pajak hanya meningkat rata-rata 4,3% per tahun menjadi US$ 580 miliar.
Baca Juga
TADEA 2026 Perluas Apresiasi ke Berbagai Kanal Distribusi Asuransi Jiwa
Perbedaan laju pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan premi belum sepenuhnya diikuti oleh perbaikan efisiensi operasional industri.
McKinsey juga mencatat porsi premi terhadap output ekonomi global relatif tidak berubah selama satu dekade. Di lain sisi, kebutuhan perlindungan terus meningkat. Kesenjangan perlindungan terhadap bencana alam (natural catastrophe protection gap) mencapai US$ 133 miliar pada 2025, sementara kurang dari 1% kerugian akibat risiko siber global yang diasuransikan.
Pada bisnis asuransi umum atau property and casualty (P&C), komisi menyerap sekitar US$ 0,10 - US$ 0,25 dari setiap US$ 2 premi. Sementara itu, rasio biaya asuransi secara global tercatat 17% lebih tinggi dibandingkan posisi pada 2005.
Kondisi itu membuat penerapan AI tidak cukup hanya dilakukan melalui eksperimen atau pilot project. Teknologi tersebut perlu diintegrasikan langsung ke dalam proses bisnis utama, mulai dari underwriting, klaim hingga pertumbuhan bisnis.
“Pertanyaan sebenarnya bagi perusahaan asuransi bukan apakah harus berinvestasi pada AI, tapi bagaimana mengintegrasikannya ke dalam underwriting, klaim, dan pertumbuhan bisnis dengan tata kelola yang baik, dapat diperluas, dan berkelanjutan,” ujar Global Lead Insurance Industry NTT Data Group Corporation Bruno Abril.
Baca Juga
Asuransi Tri Pakarta Cetak Laba Rp 71,83 Miliar pada Juli 2026
Temuan NTT DATA memperkuat potensi tersebut. Berdasarkan survei terhadap 291 eksekutif industri asuransi, sebanyak 85,8% perusahaan yang strategi AI-nya sepenuhnya selaras dengan strategi bisnis melaporkan peningkatan laba sedikitnya 5% dari penggunaan AI. Sebaliknya, hanya 45,5% perusahaan dengan tingkat keselarasan strategi AI yang lebih rendah yang melaporkan peningkatan laba pada level tersebut.
NTT DATA mengidentifikasi 46 perusahaan atau sekitar 16% dari responden sebagai pemimpin dalam penerapan AI (AI leaders). Kelompok ini juga cenderung mengalokasikan investasi lebih besar untuk teknologi tersebut.
Sekitar 71,7% perusahaan yang masuk kategori AI leaders menyebut investasi AI mereka sangat signifikan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 51% perusahaan yang tertinggal dalam penerapan AI. Selain itu, 63% AI leaders berencana meningkatkan investasi AI lebih lanjut.
AI Masuk ke Proses Inti Asuransi
McKinsey menilai AI berpotensi mengubah cara perusahaan asuransi menjual dan melayani polis. Salah satu penerapannya adalah penggunaan asisten AI yang dapat membantu nasabah membandingkan manfaat perlindungan hingga berpindah polis. Teknologi tersebut juga telah menunjukkan dampak terhadap efisiensi. McKinsey mencatat penggunaan AI dapat menurunkan biaya onboarding hingga 40% dan meningkatkan produktivitas agen sebesar 10%-20%.
Perubahan tersebut juga terlihat pada infrastruktur teknologi perusahaan. Lebih dari separuh perusahaan yang masuk kategori AI leaders tengah membangun kembali sistem inti underwriting, klaim, dan administrasi polis dengan AI yang terintegrasi di dalamnya.
Sebagai perbandingan, hanya 6,5% perusahaan yang tertinggal dalam penerapan AI melakukan langkah serupa.
Dengan begitu, perbedaan antara perusahaan yang berhasil memanfaatkan AI dan yang tertinggal bukan hanya terletak pada besarnya investasi, tetapi juga pada sejauh mana teknologi tersebut terhubung dengan strategi dan proses bisnis utama.
Tata Kelola Jadi Faktor Penting
Selain investasi dan integrasi teknologi, tata kelola menjadi faktor lain yang membedakan perusahaan yang berhasil memanfaatkan AI. NTT DATA mencatat sekitar 67,4% AI leaders telah menerapkan tata kelola AI secara terpusat. Persentasenya jauh lebih tinggi dibandingkan 23,5% perusahaan yang masuk kategori lagging insurers.
Hampir 85% AI leaders juga memiliki posisi khusus untuk memimpin pengembangan AI, seperti chief AI officer. Pada kelompok perusahaan yang tertinggal, angkanya hanya 45,1%.
McKinsey menilai perkembangan AI pada akhirnya dapat mengubah struktur dan dinamika industri asuransi yang selama ini telah terbentuk.
Bagi perusahaan asuransi, tantangannya bukan lagi sekadar mengadopsi teknologi AI, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar menghasilkan efisiensi, meningkatkan produktivitas, memperbaiki pengalaman nasabah, serta mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

