Persaingan Makin Ketat, Harga Asuransi di Asia Turun 5%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga asuransi komersial di kawasan Asia kembali mencatat penurunan pada kuartal II 2026. Berdasarkan laporan Marsh Global Insurance Market Index periode Juli 2026, dilansir pada Sabtu (8/8/2026), tarif asuransi di Asia turun 5% secara tahunan pada kuartal II 2026.
Penurunan tersebut sekaligus mempertahankan tren yang terjadi dalam empat kuartal terakhis. Secara global. Harga asuransi bahkan turun 6% pada kuartal II 2026 telah mencatat penurunan selama delapan kuatal beruntun.
Marsh mencatat, penurunan harga asuransi di Asia terutama dipengaruhi oleh meningkatnya kapasitas dan persaingan di sebagian besar pasar dan sektor industri. Kondisi tersebut membuat perusahaan atau nasabah asuransi memiliki posisi yang lebih baik dalam memperoleh persyaratan pertanggungan.
“Kapasitas dan tingkat persaingan perusahaan asuransi meningkat di sebagian besar pasar dan industri.” tulis Mars dalam laporannya.
Secara regional, Asia mencatat penurunan tarif sebesar 5%. Penurunan yang lebih dalam terjadi di sejumlah kawasan lain, yaitu Amerika Serikat (AS) sebesar 2%, Inggris 8%, Kanada 7%, Eropa 6%, Amerika Latin dan Karibia 9%, Pasifik 13%, serta India, Timur Tengah, dan Afrika sebesar 16%.
Harga Asuransi Properti Turun 5%
Pada lini asuransi properti, tarif di Asia turun 5% pada kuartal II 2026. Angka itu sama dengan penurunan yang terjadi dalam empat kuartal sebelumnya.
Marsh menyebut, peningkatan kapasitas dan persaingan di pasar menjadi faktor utama yang mendorong penurunan tarif. Kondisi pasar tersebut juga memungkinkan sebagian nasabah mendapatkan persyaratan yang lebih baik, termasuk memperoleh limit pertanggungan yang lebih tinggi dan mengurangi non concurrencies dfalam program asuransi.
Asuransi Tanggung Gugat Turun 3%
Sementara itu, tarif asuransi casualty atau tanggung gugat di Asia turun 3% pada kuartal II 2026, lebih dalam dibandingkan penurunan 2% pada kuartal sebelumnya. Penurunan atau stabilisasi tarif terjadi pada sebagian besar pasar untuk lini general liability, tarif di sebagian besar kawasan Asia cenderung moderat atau tetap. Korea mencatat penurnan hingga 15% sedangkan Jepang justru mengalami kenaikan tarif hingga 5%.
Baca Juga
Menurut Marsh, nasabah secara umum masih mendapatkan keuntungan dari kapasitas yang cukup besar dari perusahaan asuransi regional maupun global.
Tekanan terhadap harga juga terlihat pada lini financial and professional. Tarif asuransi pada lini tersebut turun 7% di Asia pada kuartal II 2026, sama seperti kuartal sebelumnya.
Tarif directors and officers (D&O) atau asuransi tanggung jawab hukum turun di sebagian besar pasar Asia, meskipun tetap stabil di Vietnam. Sementara itu, tarif professional liability atau asuransi tanggung jawab profesional juga menurun di sebagian besar pasar, tetapi stabil di Indonesia, Vietnam, Jepang, dan Filipina.
Marsh mencatat, kapasitas asuransi tetap stabil di kawasan Asia. Program asuransi berskala besar dan kompleks dengan premi yang signifikan juga masih menarik minat kuar dari perusahaan asuransi.
Harga Asuransi Siber Turun 5%
Penurunan paling besar di antara lini utama yang disoroti Marsh terjadi pada asuransi siber. Tarif asuransi siber di Asia turun 8% pada kuartal II 2026, lebih dalam dibandingkan penurunan 6% pada kuartal sebelumnya.
Marsh menyebut sebagian besar pasar di Asia mencatat penurunan tarif. Vietnam menjadi salah satu pengecualian dengan tarif yang relatif stabil. Meningkatnya kapasitas yang disediakan perusahaan asuransi di pasar dan sektor yang menjadi prioritas turut mendorong tingginya tingkat persaingan.
Namun, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat perusahaan asuransi tetap berhati-hati terhadap eksposur terkait AI. Sejumlah perusahaan menerapkan sub-limits dan pengecualian tertentu untuk risiko tersebut.
Meski demikian, sebagian besar nasabah masih dapat memperoleh limit pertanggungan yang lebih tinggi dan cakupan yang lebih luas ketika melakukan perpanjangan polis. Di Asia Tenggara, pembelian asuransi siber oleh nasabah yang sebelumnya belum memiliki perlindungan tersebut juga semakin meningkat, seiring dengan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap ketahanan siber.

