AI Diproyeksikan Tekan Rasio Klaim dan Mitigasi Fraud, AAUI Siapkan Uji Coba dengan Perusahaan Asuransi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di industri asuransi terus berkembang. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengungkapkan, saat ini sejumlah perusahaan asuransi telah menunjukkan minat untuk mengadopsi teknologi tersebut, termasuk pada lini asuransi kesehatan dan kendaraan bermotor.
Ketua AAUI Budi Herawan mengungkapkan, pihaknya bersama PT Pusat Informasi dan Data Asuransi Indonesia (Pindai) tengah menyiapkan implementasi teknologi AI yang dikembangkan melalui kerja sama dengan mitra dari China.
“Jadi proses ada beberapa asuransi sudah tertarik. Mudah-mudahan di kuartal III ini ada perusahaan asuransi joint venture yang akan coba produknya kita PT Pindai yang kerja sama dengan China,” ujarnya, di sela-sela acara Investortrust Best Insurance 2026, yang digelar di Glass House, Habitate Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Budi menjelaskan, pengembangan AI tak hanya ditujukan untuk asuransi kesehatan, tapi juga ditawarkan kepada sejumlah perusahaan pada beberapa lini bisnis (class of busines), termasuk asuransi kendaraan bermotor.
“Kita memang yang concern-nya ada beberapa class of business, ini sudah kita tawarkan. Ada beberapa yang cukup tertarik, kendaraan bermotor juga ada beberapa perusahaan yang tertarik. Kita sudah mulai mengejar ketertinggalan,” katanya.
Budi menilai, penerapan AI berpotensi meningkatkan akurasi analisis data sehingga dapat membantu perusahan asuransi menekan rasio klaim. Dengan kemampuan mengolah data dalam jumlah besar, AI dinilai mampu mendeteksi kondisi yang sebenarnya sebelum klaim diproses.
Baca Juga
GRC Menjadi Kunci Membangun Industri Asuransi yang Sehat dan Berdaya Saing
“Harusnya sih bisa, karena itu data yang di-absorb di AI yang tentunya akan bisa mendeteksi real-nya seperti apa. Kita belajar dari China, China bekerja sama dengan kita,” ucapnya.
Selain itu, kata Budi, AI juga diharapkan dapat memperkuat upaya mitigasi fraud di industri asuransi. Meski begitu, ia mengatakan pengembangan fitur tersebut masih dalam tahap penyempurnaan.
“Mitigasinya kita lagi proses semua, doain saja. Nanti di Indonesia Rendezvous bisa kita buktikan,” ujarnya.
Di lain sisi, Budi mengingatkan bahwa semakin luasnya penggunaan AI juga harus diimbangi dengan penguatan keamanan siber. Menurutnya, perlindungan terhadap pengguna dan sistem Ai menjadi aspek penting agar transformasi digital di industri asuransi dapat berjalan secara aman dan berkelanjutan.
“AI ini tentunya concern-nya terhadap serangan sibernya. Kita juga semua sudah menuju ke sana juga, bagaimana kita bisa memberikan proteksi terhadap pengguna-pengguna AI,” kata Budi.
