LPS Bantah Ada Fenomena 'Mantab' di Masyarakat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu mengungkapkan pihaknya tak melihat adanya fenomena makan tabungan. Menurutnya, tabungan di bawah Rp 100 juta dan di atas Rp 5 miliar tetap tumbuh.
"Nggak ya, semua masih tumbuh ya. Baik itu tabungan-tabungan yang di bawah Rp 100 juta maupun sampai dengan di atas Rp 5 miliar semuanya tumbuh dan bergerak gitu ya," kata Anggito di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Data LPS menunjukkan bahwa pertumbuhan simpanan berskala kecil, sampai dengan Rp 100 juta, secara tahunan per bulan Mei 2026 mencapai 4,95%. Angka ini menunjukkan akselerasi jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025 yang tumbuh sebesar 3,43%.
Di sisi lain, untuk kelompok penabung dengan saldo di atas Rp 5 miliar, LPS mencatat pertumbuhan yang masih tetap tinggi di level double digit. Per Mei 2026, kelompok simpanan ini tumbuh sebesar 21,46% secara tahunan.
Kendati demikian, jika dibandingkan dengan performa Desember 2025 yang mencatatkan pertumbuhan 22,76%, laju pertumbuhan kelompok atas ini mengalami sedikit perlambatan.
"Jadi itu menunjukkan bahwa sebetulnya sirkulasi dana itu yang masuk ke bank itu mendukung kegiatan ekonomi yang sektor riil khususnya ya," kata dia.
Selain itu, Anggito melihat pertumbuhan M2 juga masih baik. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Juni 2026.
Baca Juga
Indonesia Berpeluang Jadi Produsen Halal Global, LPS Dorong Penguatan Ekosistem dan Regulasi
Posisi M2 pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp 10.432,8 triliun atau tumbuh sebesar 8,7% secara tahunan melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 10,8% secara tahunan.
Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8% secara tahunan dan uang kuasi sebesar 6,9% secara tahunan.
Perkembangan M2 pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Penyaluran kredit tumbuh sebesar 12,1% secara tahunan, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 10,8% secara tahunan pada Mei 2026.
Sementara itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh sebesar 10,1% secara tahunan melanjutkan pertumbuhan sebesar 37,4% secara tahunan pada Mei 2026.
Koordinasi KSSK
Di tengah mundurnya gubernur bank sentral Indonesia, Anggito mengatakan bahwa koordinasi yang dilakukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tetap berjalan. KSKK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua DK LPS, dan Ketua DK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap berjalan meski secara virtual.
"Ya koordinasi kalau kita lihat sebetulnya koordinasinya secara virtual itu setiap hari kita ada update mengenai informasi keuangan ekonomi makro dan keuangan, satu. Yang kedua lalu ada rapat-rapat di tingkat teknis, ada sekretariat yang juga berasal dari semua anggota KSSK hingga rapat prinsipal," ujar dia.
