Genap Usia 21 Tahun, SMF Jaga NPL di Bawah 0,5% dan Salurkan Pinjaman Rp 141 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF genap mencapai usia 21 tahun. Di usianya ini, SMF berupaya menjaga sejumlah catatan baik dalam kinerja keuangannya. Salah satunya, menjaga Non Performing Loan (NPL) di bawah 0,5%.
“Kualitas SFM itu dilihat dari NPL-nya berapa. Kita selalu jaga NPL-nya 0,3% - 0,4% secara gross. Kalau diambil nett bisa 0%” kata Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo, di Jakarta, Kamis (22/7/2026).
Selain itu, Ananta mengatakan SMF terus menjaga kredibilitas perusahaannya. Ini dibuktikan dengan peringkat kredit SMF yang dinilai BBB oleh S&P Global.
“Surat utang SMF adalah surat utang yang bisa dibeli investor, yang kalau investor butuh likuiditas bisa di-repo ke BI,” ujar dia.
Masih menurut Ananta, sejak berdiri pada 2005, SMF juga tak pernah mengalami default dalam membayar bunga dan pokok surat utang. Tak hanya itu, dia juga mengeklaim sejumlah pimpinan di tingkat komisaris hingga direksi SMF tak pernah bermasalah secara hukum.
“Itu yang harus kita jaga biar sustain and safe ke depannya,” kata dia.
Selama berdiri, Ananta mengatakan SMF telah menyediakan Rp 141,61 triliun untuk penyaluran pinjaman. Sementara itu, pendanaan yang sudah dilakukan SMF mencapai Rp 77,69 triliun hingga semester I-2026.
Baca Juga
“Pendanaan itu sebagian besar kita ambil dari capital market,” ucap dia.
Sampai akhir tahun, Ananta menyebut SMF akan mengejar target yang diberikan pemerintah. Salah satunya dengan memberikan dukungan dalam penyediaan likuiditas dengan porsi 25% dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
“Kita akan mencoba target (penyediaan) 350.000 rumah itu tercapai. Untuk itu 25% pendanaan harus siap,” kata dia.
Target lain yang ingin dicapai SMF pada 2026 ini yaitu mendorong skema pendanaan kreatif yang sesuai dengan kebutuhan lembaga penyalur kredit perumahan sebagai pemenuhan modal tier 2. “Kita merasakan bahwa dukungan penyedia likuiditas oleh perbankan sangat diperlukan pada saat-saat ini,” ucap dia.
Selain itu, Ananta juga menargetkan dapat mendaur ulang aset baik dengan refinancing maupun sekuritisasi. Terdapat dua sekuritisasi yang sedang digodok yaitu jual putus dan tidak jual putus (true sale dan non true sale).
“Yang tidak jual putus itu, sedang menunggu aturan di Otoritas Jasa Keuangan,” kata dia.
