Yield SBN Terus Menurun, Apa Untungnya bagi Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id – Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) terus menurun. Surat uang bertenor 10 tahun turun 1,80 basis poin (bps) ke 6,61% pada Senin (18/12/2023). Selama Desember, obligasi pemerintah tersebut turun 9,8 bps dan terpangkas 30,3 bps selama tahun berjalan (year to date/ytd).
Penurunan yield juga terjadi pada obligasi berdenominasi dolar atau government bond (INDON) bertenor 10 tahun, yang selama Desember ini merosot 55,3 bps ke 4,89%.
Penurunan yield SBN mengikuti tren serupa di Amerika Serikat. US Treasury bertenor 10 tahun pada Jumat (15/12/2023) turun 0,98 bps ke 3,91%. Tren penurunan imbal hasil T-bond merupakan respons atas sinyal Federal Reserve yang bakal memangkas tiga kali suku bunga selama 2024, seiring meredanya inflasi.
Penurunan yield akan meringankan beban APBN terkait dengan pembayaran cicilan bunga (kupon). Tren penurunan imbal hasil SBN berjalan seiring dengan imbal hasil T-bond AS, serta dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga acuan BI, ekspektasi inflasi, dan ekspektasi nilai tukar rupiah.
Sementara itu, kepemilikan asing di SBN tercatat sebesar Rp 838,8 triliun atau setara 14,9% dari total oustanding SBN. Terjadi net inflow sebesar Rp 5,0 triliun selama Desember dan net inflow sebesar Rp 76,6 triliun selama tahun berjalan (ytd), or 14.9% of total outstanding.
Di pasar valas, rupiah melemah 0,11% ke Rp 15.510 per dolar AS pada perdagangan Senin /USD atau terapresiasi 0,37% (ytd). Rupiah diperdagangkan pada kisaran 15.495 – 15.553 terhadap dolar AS.
Di Bursa Efek Indonesia, IHSG terkoreksi 1,0% ke 7.119,5, Senin (+0.6% mtd, +3.9% ytd) di tengah sikap wait and see investor yang menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Kamis pekan ini. Pelaku pasar berharap BI menahan suku bunga acuan (BI7DRR) di level 6%.
Pada perdagangan kemarin, investor asing mencatat net inflow sebesar Rp 383,2 miliar. Selama bulan ini, asing membukukan net buy Rp 3,7 triliun, tapi sejak awal tahun terjadi net outflow Rp 10,1 triliun di pasar saham.

