8 Dekade BNI (BBNI), Asa Menggapai Global Financial Institution
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sebagai bank negara pertama yang menembus pasar global, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menjadi instrumen strategis untuk memperluas pengaruh ekonomi Indonesia di pasar global. Untuk itu, BNI yang pada 5 Juli 2026 mendatang genap berusia 80 tahun ini terus mengerahkan upayanya untuk menuju institusi keuangan berkelas dunia atau global financial institution.
Apalagi pemerintah memiliki visi Indonesia Emas 2045 yang salah satunya bisa dikontribusi dari strategi transformasi nasional pada penguatan perbankan nasional berstandar global. Di mana untuk menuju target besar itu, Indonesia butuh bank nasional berkelas dunia.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, selain memperkuat sisi domestik, bank dengan kode emiten BBNI itu terus memperluas jangkauan internasionalnya. Menariknya, BNI menjadi bank Indonesia pertama yang membuka cabang luar negeri di Singapura pada 1955, satu dekade sebelum “Negeri Singa” itu meraih kemerdekaannya pada 1965.
Sejarah internasional BNI menjadi tonggak penting dalam ekspansi internasional perbankan Indonesia. Setelah Singapura, BNI kemudian memperluas jaringannya ke berbagai pusat keuangan dunia seperti Tokyo, Hongkong, New York, London, Osaka, Seoul, Amsterdam, dan Sydney. Jaringan itu diperkuat lebih dari 1.600 bank koresponden di seluruh dunia.
Bank yang didirikan oleh Margono Djojohadikusumo, kakek dari Presiden Prabowo Subianto pada 1946 tersebut juga punya misi tak hanya menjadi bank nasional, tapi juga mendukung diplomasi ekonomi Indonesia yang baru merdeka setahun sebelumnya. Tak heran jika “bank perjuangan” itu sekarang terus menjaga reputasinya untuk membawa nama Indonesia semakin dikenal di dunia internasional dan berdampak positif bagi perekonomian nasional. Hal itu dilakukan di tengah kompetisi global yang didominasi “raksasa” finansial global dari Amerika Serikat, Inggris, China, Jepang, dan Singapura.
Putrama mengatakan, BNI tengah meningkatkan kapabilitas global melalui penguatan jaringan internasional, khususnya dalam mendukung perdagangan luar negeri dan memberikan layanan optimal bagi diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia. Transformasi internal juga menjadi motor penggerak pertumbuhan BNI melalui inisiatif branch, region, area, value, dan empowerment (BRAVE).
Transformasi juga dilakukan secara digital dengan menghadirkan platform BNI Xpora hingga yang teranyar Fast Trex Xpora, ekosistem yang dirancang untuk mendukung UMKM memperluas pasar hingga ke mancanegara. Program tersebut menjadi bagian dari strategi go global yang dijalankan BNI untuk memperkuat daya saing UMKM Indonesia.
Dalam Laporan Keberlanjutan BNI 2025, BNI Xpora telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 35 triliun kepada 12.094 debitur hingga akhir 2025.
Lebih lanjut Putrama merefleksikan delapan dekade perjalanan BNI sebagai institusi yang lahir dari semangat perjuangan dan pengabdian. Di mana, kemampuan bertahan selama 80 tahun di industri perbankan merupakan bukti ketangguhan dalam melewati berbagai siklus krisis dan disrupsi teknologi.
"Dan rasanya tidak semua institusi mampu untuk melewati fase tersebut dengan tetap mendapatkan kepercayaan dari masyarakat," ucap Putrama, baru-baru ini.
Keberhasilan bank yang masuk dalam daftar Time World's Best Companies 2024 dan Forbes Global 2000 pada tahun 2025 tersebut dalam menjaga kepercayaan masyarakat selama puluhan tahun disebut tidak lepas dari kompas nilai yang konsisten, yaitu "Swadharma Bhakti Nagara". Swadharma Bhakti Nagara adalah fondasi keyakinan BNI, bahwa setiap peran memiliki panggilan untuk memberi dampak yang lebih besar dari sekadar hasil kerja.
Lalu kini, berbekal pengalaman di bidang treasury dan bisnis internasional, Putrama disiapkan menjadi landasan perusahaan untuk akselerasi ekspansi bisnis globalnya.
Baca Juga
BNI Maintains ‘Buy’ Rating as Loan Growth Outpaces Margin Pressures
Target Indonesia Emas 2045
Menuju Indonesia Emas 2045 di mana target tersebut diterjemahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah Aditya Laksmana menilai, dalam kerangka tersebut, BNI memiliki posisi strategis karena pembangunan ekonomi berorientasi ekspor dan investasi membutuhkan lembaga keuangan nasional yang mampu beroperasi pada skala global.
Peran BNI tidak hanya sebagai penyedia pembiayaan, tetapi juga sebagai fasilitator perdagangan internasional, serta pendukung ekspansi perusahaan Indonesia ke pasar luar negeri. Melalui jaringan kantor dan layanan internasional yang dimiliki, BNI membantu pelaku usaha Indonesia memperoleh akses pasar, transaksi lintas negara, trade finance, remitansi, hingga pembiayaan investasi di luar negeri.
“Program pembiayaan diaspora yang telah menjangkau puluhan usaha Indonesia di berbagai negara menunjukkan bagaimana BNI menjadi instrumen konkret diplomasi ekonomi dan perluasan pasar global bagi produk Indonesia,” ujar Aditya kepada Investortrust, baru-baru ini.
Pemerintah, sambung Aditya juga memiliki agenda besar untuk memperkuat sektor keuangan sebagai enabler pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mencapai target Indonesia Emas 2045, dibutuhkan pendalaman sektor keuangan, peningkatan kapasitas pembiayaan pembangunan, penguatan permodalan perbankan, percepatan digitalisasi, serta peningkatan daya saing bank nasional agar mampu bersaing di tingkat regional dan global.
“RPJMN 2025–2029 menempatkan transformasi ekonomi dan penguatan tata kelola sektor keuangan sebagai fondasi utama dalam mendukung pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” kata Aditya.
Karena itu, menurutnya, bank-bank nasional seperti BNI diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin di pasar domestik, tetapi juga berkembang menjadi regional champion dan global Indonesian bank yang mampu mendukung target peningkatan ekspor, investasi, hilirisasi industri, serta internasionalisasi perusahaan nasional.
“Semakin kuat kehadiran BNI di pusat-pusat ekonomi dunia, semakin besar pula kemampuan Indonesia untuk menarik investasi, memperluas pasar ekspor, dan mempercepat pencapaian visi Indonesia sebagai negara maju dan ekonomi terbesar keempat dunia pada tahun 2045,” ungkap Aditya.
Hal senada juga diungkapkan Praktisi Perbankan, Ekonom Senior, dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto. Ia menjelaskan, selain menjadi pertumbuhan bisnis, kantor cabang di luar negeri juga berfungsi sebagai pintu gerbang (gatekeeper) bagi berbagai kepentingan ekonomi Indonesia di pasar internasional.
“BNI menjadi penghubung dunia, connecting the world Indonesia dengan dunia luar. Tetapi tidak cukup hanya ada cabang diluar negeri, tapi kapabilitas, kompetensi dari SDM-nya harus ditingkatkan karena tingkat persaingannya dengan bank negara lain,” ujarnya kepada Investortrust.
Keberadaan cabang bank di luar negeri, sambung Ryan juga harus memiliki standar layanan, tata kelola, dan kemampuan bisnis yang setara dengan bank-bank di negara tempat mereka beroperasi. Hal itu penting agar bank Indonesia mampu bersaing secara kompetitif di pasar global.
“Keberadaan kantor cabang bank di luar negeri, itu bukan hanya “menjual” BNI, tapi Indonesia,” ungkapnya.
Baca Juga
Pertumbuhan Laba dan Kredit Kuat, Saham BNI (BBNI) Dipertahankan Beli dengan Target Harga Ini
Konektivitas Perbankan Nasional dengan Global
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang perkembangan konektivitas bank-bank nasional dengan institusi keuangan global menunjukkan tren yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terlihat dari semakin luasnya hubungan koresponden perbankan, peningkatan kerja sama pembiayaan perdagangan internasional, partisipasi dalam transaksi lintas negara, serta ekspansi beberapa bank nasional ke pasar regional dan internasional.
“Namun demikian, membangun konektivitas global tidak hanya berarti membuka kantor atau cabang di luar negeri. Yang lebih penting adalah kemampuan bank nasional untuk memenuhi standar internasional yang menjadi prasyarat kepercayaan global, antara lain tata kelola yang baik, manajemen risiko yang kuat, kecukupan modal, kepatuhan terhadap rezim anti pencucian uang dan pendanaan terorisme (AML/CFT), keamanan siber, serta kualitas pengelolaan data dan teknologi,” ucap Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae kepada Investortrust.
Pasalnya, dengan fondasi yang semakin kuat, bank-bank nasional akan lebih mudah terhubung dan diterima dalam ekosistem keuangan global. Apalagi, Dian mengakui, daya saing bank-bank Indonesia terus meningkat. “Namun masih terdapat ruang yang cukup besar untuk penguatan agar mampu bersaing dengan bank-bank global maupun regional,” tambahnya.
Dari sisi ketahanan, perbankan Indonesia saat ini memiliki permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta profitabilitas yang relatif baik dibandingkan banyak negara. Hal ini menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing internasional.
Namun jika dibandingkan dengan bank-bank besar di kawasan Asia, dikatkaan Dian, tantangan utama masih berada pada skala usaha dan ukuran aset yang relatif lebih kecil, kedalaman produk dan layanan keuangan internasional, kapasitas pembiayaan proyek-proyek berskala sangat besar, tingkat digitalisasi dan pemanfaatan teknologi yang semakin kompetitif, dan jaringan internasional yang masih terbatas dibandingkan bank-bank global dan regional.
“Karena itu, OJK memandang penguatan daya saing tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan transformasi menyeluruh melalui penguatan modal, peningkatan efisiensi, pengembangan sumber daya manusia, penguatan teknologi, dan konsolidasi industri” pungkasnya.
Dalam konteks ini, mandat yang diberikan melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) menjadi sangat strategis karena memberikan landasan yang lebih kuat untuk memperkuat struktur industri perbankan nasional agar mampu menjadi pemain yang lebih kompetitif di tingkat regional maupun global.
Dian menambahkan, keberadaan jaringan internasional bank nasional memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung visi Indonesia sebagai negara maju dan kekuatan ekonomi besar dunia.
Sebab, bank yang memiliki jaringan internasional dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kegiatan ekonomi domestik dengan pasar global. Melalui jaringan tersebut, bank dapat mendukung perdagangan internasional dan ekspor nasional, memfasilitasi investasi asing langsung ke Indonesia, mendampingi perusahaan nasional yang melakukan ekspansi ke luar negeri, menyediakan akses pendanaan global yang lebih luas, mendukung penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global (global value chain).
“Pada akhirnya, bank-bank nasional yang kuat, terintegrasi dengan sistem keuangan internasional, dan beroperasi sesuai standar global akan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan target Indonesia Emas 2045 dan mendukung cita-cita Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia,” kata Dian.
