AAUI Catat Premi Asuransi Umum Tumbuh 1,9% dan Klaim Naik 17,7% di Kuartal I 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, total pendapatan premi yang dibukukan industri asuransi umum sebesar Rp 31,12 triliun pada kuartal I 2026 atau tumbuh 1,92% dibanding periode yang sama 2025 yaitu Rp 30,53 triliun.
Hal tersebut seperti diungkapkan Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisis AAUI Heri Supriyadi, dalam Konferensi Pers AAUI Triwulan I 2026, di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah lini bisnis yang mengalami pertumbuhan premi, antara lain lini asuransi properti, kendaraan bermotor, kesehatan, serta asuransi kredit.
“Kalau untuk (lini asuransi) properti premi naik 6,5% jadi Rp 8,31 triliun, kendaraan bermotor naik 2,9% jadi Rp 5,39 triliun, asuransi kesehatan naik 23% jadi Rp 4,67 triliun, asuransi kredit tumbuh 3,2% jadi Rp 4,11 triliun,” ujar Heri.
Baca Juga
Konflik Timteng Tak Langsung Dongkrak Harga Premi Asuransi, AAUI Wanti-wanti Tekanan Inflasi Klaim
Sementara itu, dari sisi klaim, kenaikannya lebih tinggi ketimbang premi. Hingga Mei 2026, klaim yang dibayarkan industri asuransi umum meningkat 17,7%, dari Rp 10,98 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 12,92 triliun di periode yang sama tahun ini.
“Untuk klaimnya juga naik, lebih tinggi daripada kenaikan premi. Tapi tidak masalah karena namanya bisnis asuransi pasti ada klaim,” kata Heri.
Baca Juga
Potensi Asuransi Swasta Beri Perlindungan Penumpang Transportasi Publik, AAUI dan DAI Bilang Begini
Ia menjelaskan, klaim lini asuransi properti tumbuh 34,7% secara year on year (yoy) menjadi Rp 2,64 triliun di kuartal I 2026. Klaim asuransi kendaraan bermotor naik 0,2% (yoy) jadi Rp 1,83 triliun. Untuk klaim asuransi kredit meningkat 17% (yoy) menjadi Rp 4,21 triliun.
“Yang lainnya justru turun, seperti di personal accident (asuransi kecelakaan diri) yang turun 53,9% dari Rp 239 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp 110 miliar pada periode yang sama tahun ini. Asuransi kesehatan juga turun 1%, dari Rp 1,69 triliun jadi Rp 1,67 triliun,” ucap Heri.
