Ketidakpastian Ekonomi Meningkat, Industri Asuransi Perlu Perkuat Likuiditas dan Teknologi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan domestik dinilai dapat menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri asuransi. Untuk tetap bertahan dan tumbuh di tengah kondisi tersebut, perusahaan asuransi perlu memperkuat strategi manajemen risiko, menjaga likuiditas, serta memanfaatkan teknologi secara optimal.
Senior Partner RWI Consulting Deddy Jacobus mengungkapkan, perusahaan asuransi perlu melakukan segmentasi pasar yang lebih tepat dan mengembangkan produk yang fleksibel sesuai kebutuhan masyarakat. Menurutnya, fokus pada lini bisnis yang relatif lebih tahan terhadap tekanan ekonomi menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberlangsungan usaha.
“Dengan fokus pada bisnis yang lebih tahan krisis atau tahan terhadap tekanan yang sekarang dihadapi melalui produk-produk yang adaptif, sembari tetap mencari apa yang dibutuhkan pasar,” ujarnya, dalam iLearn Thematic Webinar bertajuk “Risk Intelligence and Sovereignty: Building Resilient Financial Ecosystems in an Uncertain World”, Rabu (10/6/2026).
Deddy menjelaskan, ketidakpastian ekonomi menuntut perusahaan asuransi untuk lebih cermat dalam memilih portofolio bisnis. Produk-produk yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap gejolak ekonomi dapat menjadi penopang kinerja ketika kondisi pasar sedang mengalami tekanan.
Selain strategi produk, ia menekankan pentingnya penguatan manajemen risiko likuiditas. Menurutnya, perusahaan harus memiliki perencanaan modal berbasis risiko (risk based capital planning), rencana kontinjensi likuiditas (liquidity contingency plan), serta sistem pemantauan eksposur risiko yang mampu mendeteksi potensi masalah sejak dini.
“Kemudian bagaimana kesiapan kecukupan likuiditas untuk mengantisipasi terjadinya klaim besar, dan apakah pattern yang sekarang terjadi ini bisa bermuara kepada munculnya klaim-klaim yang besar,” kata Deddy.
Baca Juga
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan machine learning dalam pengelolaan bisnis asuransi. Sebab, teknologi tersebut memungkinkan perusahaan membaca pola risiko secara lebih cepat, akurat, dan konsisten dibandingkan metode konvensional.
“AI, machine learning, digitalisasi, itu di dua sisi sebenarnya dengan adanya teknologi tadi itu proses kita menjadi lebih efisien, dia bisa membaca data secara konsisten dalam jumlah yang besar dan mengenali pattern-nya dengan baik. Kalau dia sudah pakai algoritma itu dia kenali dengan baik setiap karakteristik dari bahan itu gitu ya. Jadi kalau kita hari ini tidak memanfaatkan teknologi berbasis AI dan machine learning, kita ketinggalan di dalam kemampuan untuk mendeteksi risiko dengan membaca pola dengan baik,” ucap Deddy.
Lebih lanjut, ia menilai diversifikasi portofolio investasi menjadi strategi penting dalam menghadapi ketidakpastian. Perusahaan perlu mengkombinasikan produk yang adaptif dengan strategi investasi yang baik.
“Sehingga tidak terjadi konsentrasi risiko pada nasabah yang dalam kondisi sekarang ini itu rentan terhadap kegagalan. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban premi mereka atau bahkan kegagalan dari sisi munculnya ancaman klaim yang besar,” ujar Deddy.
Baca Juga
Berkat Reformasi yang Dilakukan OJK, Sektor Asuransi dan Dapen Nasional Diapresiasi OECD

