Ketidakpastian Global Meningkat, Bos BRI: Industri Keuangan Harus Perkuat Resiliensi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketidakpastian global dan risiko geopolitik masih membayangi perekonomian dunia. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa baseline ketidakpastian saat ini lebih tinggi dan cenderung persisten dibanding periode sebelum pandemi.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) Hery Gunardi mengungkapkan, lonjakan World Uncertainty Index yang sempat terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina kembali meningkat ketika krisis perbankan di Amerika Serikat (AS) mencuat.
“Setelah sempat turun pada tahun 2024, indeks kembali melonjak hingga di atas 120 akibat dinamika kebijakan tarif dan fragmentasi perdagangan global yang saat ini masih berada di kisaran angka 90. Jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelum pandemi. Artinya baseline ketidakpastian global kini lebih tinggi dan cenderung persisten,” ujarnya, dalam webinar OJK Institute, Kamid (19/2/2026).
Baca Juga
BRI 130 Tahun: Dari Bank Rakyat Menjadi Bank Universal Indonesia
Menurut Hery, Geopolitical Risk Index juga menunjukkan risiko yang belum merenda. Konflik di Timur Tengah, tensi antar negara besar, serta fragmentasi global mendorong indeks naik hingga sekitar 158, jauh di atas titik terendah sebelumnya.
“Semakin tinggi indeks ini, semakin besar potensi gangguan pada supply chain, harga energi, arus perdagangan, dan juga stabilitas pasar keuangan global,” katanya.
“Terlihat bahwa dunia tidak lagi menghadapi sekadar siklus ekonomi biasa, tetapi memasuki fase ketidakpastian struktural yang dipicu faktor geopolitik,” sambung Hery.
Baca Juga
Dalam konteks perbankan, lanjut dia, volatilitas kini menjadi kondisi dasar. Hal ini menuntut kebutuhan likuiditas yang lebih kuat, manajemen risiko kredit yang lebih presisi, terutama pada sektor yang sensitif terhadap ekspor dan perdagangan global, serta disiplin dalam pengelolaan permodalan dan treasury.
“Strategi industri keuangan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan, tapi tentang resilience, agility, dan kemampuan menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” ucap Hery.
Perlambatan global, Indonesia tetap solid
Dampak ketidakpastian global tercermin dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), World Bank, dan IMF (International Monetary Fund) merevisi proyeksi pertumbuhan global pada 2026 ke kisaran 2,6% hingga 3,3%, lebih rendah dari tren historis.
Negara maju diperkirakan tumbuh terbatas akibat tantangan struktural dan ruang kebijakan yang semakin sempit. Sementatra negara berkembang tetap menjadi motor pertumbuhan global meski momentum mulai tertahan perlambatan perdagangan dan dinamika eksternal.
“Di tengah kondisi tersebut, Indonesia relatif tetap solid dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5%. Namun kita tetap perlu waspada terhadap spillover global terutama melalui jalur ekspor komoditas dan arus modal,” ujar Hery.
“Artinya, strategi ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan tetapi memastikan resiliensi domestik di tengah perlambatan global yang semakin nyata,” sambungnya.
Menurut Hery, Indonesia relatif mampu menjaga momentum pertumbuhan. Pada kuartal keempat 2025, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,39% secara year on year (yoy), sehingga secara tahunan berada di kisaran 5,1% pada 2025.
“Ini mencerminkan resiliensi domestik di tengah tekanan eksternal,” katanya.
Dari sisi struktur PDB, konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor terbesar konsisten di atas 50%. Pada kuartal empat 2025, kontribusi konsumsi bahkan kembali menguat didukung oleh daya beli segmen menengah dan atas yang relatif solid.
Investasi, kata Hery, juga tetap terjaga di kisaran 30% yang menunjukkan kepercayaan dunia usaha masih cukup baik. Artinya ketika kondisi global melambat, mesin pertumbuhan Indonesia lebih bertumpu pada permintaan domestik.
“Bagi perbankan ini merupakan ruang pertumbuhan kredit yang lebih selektif terutama pada sektor-sektor yang melayani konsumsi domestik dan investasi produktif dengan tetap menjaga kualitas aset dan disiplin risiko di tengah dinamika global,” ucapnya.
Meski kondisi global cenderung melambat, lanjut Hery, Indonesia berpeluang mempertahankan momentum pertumbuhan yang stabil dengan tetap mengantisipasi risiko eksternal melalui kebijakan yang produktif dan terukur.

